17
Mar
09

Kemang Dialihfungsikan Jadi Kawasan Komersil

Melihat perkembangan kawasan Kemang, Jakarta Selatan telah menjadi kawasan usaha, maka Pemerintah Provinsi (Pemprov) berencana mengalihfungsikan peruntukkan kawasan tersebut dari kawasan perumahan menjadi kawasan usaha atau bisnis. Pasalnya, dari tahun ke tahun kawasan Kemang telah dipenuhi oleh kafe, bar, hotel, dan restoran. Ditambah lagi, bagi warga Jakarta kawasan tersebut sudah dianggap sebagai lokasi wisata malam pada saat weekend.
Kepala Dinas Tata Ruang DKI, Wiriyatmoko mengatakan, telah melakukan pengkajian terhadap pengalihfungsian peruntukkan kawasan Kemang yang seharusnya menjadi kawasan perumahan menjadi kawasan komersil. Dari hasil kajian itu, Dinas Tata Ruang tidak akan menertibkan kawasan itu yang sekarang telah dipenuhi oleh kafe, restoran, pub, bar dan hotel ke peruntukan semula yakni perumahan. “Rencananya Kemang akan dialihfungsikan sebagai kawasan usaha,” kata Wiriyatmoko di Balaikota DKI, Jakarta, Selasa (17/3).

Pengkajian terhadap perubahan tata ruang itu dikerjakan atas pertimbangan dari tim penasehat penataan ruang seperti tim penilaian tata kota, tim penilai arsitek kota, dan tim penilai bangunan. Pertimbangan tersebut akan segera diajukan kepada Gubernur DKI untuk dikeluarkan surat keputusannya. Kendati demikian, pengelola bangunan di kawasan Kemang yang telah mendapat izin operasional usaha tetap harus membayar denda sesuai aturan yang ditetapkan dalam Perda No 1 Tahun 2006 tentang Retribusi Daerah. Sayangnya, Wiriyatmoko tidak bisa merinci besaran denda yang harus dibayar. Karena hitungan dendanya terdiri atas berapa meter lahan yang dihuni, perubahan fungsi bangunan, lokasi, dan lama bangunan itu berdiri.

Berdasarkan data, Kemang pada tahun 1950-an merupakan daerah perkebunan. Satu pohon yang paling banyak dijumpai yaitu pohon Kemang (Mangifera Kemangcaecea). Tidak diketahui sejak kapan wajah Kemang bermetamorfosis, namun jalan yang membentang dari Kemang Raya sampai Bangka Raya sepanjang tiga kilometer kini banyak ditumbuhi sekitar 60-an kafe, resto, dan rumah makan. Daerah Kemang, sering diistilahkan oleh anak muda sebagai tempat hang out yang menyuguhkan musik hinggar-bingar hingga jazz, country, atau pop.

Menteng dan Kebayoranbaru Menyusul

Selain Kemang, Wiriyatmoko menyatakan, Dinas Tata Ruang juga mengkaji alih fungsi kawasan Menteng dan Kebayoranbaru. Saat ini masih dilakukan kajian terhadap penyimpangan apa saja yang bisa ditolerir di kedua wilayah itu. Pengkajian kedua kawasan ini, terbilang rumit. Sebab, keduanya merupakan daerah konservasi dan jika terjadi pemugaran harus berdasarkan aturan yang ketat. “Ada anggapan kalau Menteng dan Kebayoranbaru merupakan daerah yang paling aman di Jakarta. Padahal kalau mau dirubah aturannya sangat ketat sekali,” terangnya.

Sementara ini, Ahli Planologi (Tata Kota) dari Universitas Trisakti Yayat Supriatna mengatakan, pemutihan ini berkenaan dengan adanya revisi tata ruang yang baru yakni UU No 26 tahun 2007 Tentang Penataan Ruang. Pemutihan juga muncul karena Pemprov tidak mampu melakukan penertiban. “Pemerintah tidak berani untuk melakukan penertiban karena banyak kepentingan yang bermain di Kemang,” kata Yayat di Jakarta, Selasa (17/3).

Tak hanya itu, pemutihan bagi bangunan di Kemang dilakukan terkait dengan kebutuhan ekonomi yakni adanya retribusi. Pemilik bangunan diantaranya wajib bayar Izin Mendirikan Bangunan (IMB), izin guna bangunan, pajak hotel dan restoran. Retribusi-retribusi itu merupakan pemasukan yang berkontribusi besar bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Jakarta. “Memang ada penyerapan tenaga kerja, namun tidak banyak,” ujarnya.

Menurut Yayat, dulunya perubahan peruntukan bangunan di Kemang terkait dengan masuknya ekspatriat yang bermukim disana. Masuknya para pekerja asing itu diikuti dengan pertumbuhan layanan kebutuhan bagi mereka seperti hotel, restoran, kafe, dan minimarket. Pertumbuhan itu sebenarnya bagus bagi perkembangan ekonomi namun tidak berdampak bagus bagi tata ruang. Karena Kemang itu hanya diperuntukkan bagi perumahan bukan kegiatan bisnis.

Mengenai kawasan Menteng, tambah Yayat, pemprov tidak akan berani melakukan pemutihan secara keseluruhan karena ada SK Gubernur Tahun 1974 Tentang Kawasan Cagar Budaya yang menyatakan Menteng merupakan kawasan cagar budaya. Modus penyimpangan bangunan di Menteng yakni perubahan fungsi bangunan menjadi kantor. “Banyak pelanggar yang mengakali fungsi bangunan karena tidak kuat bayar pajak jika bangunan yang dimiliki hanya menjadi rumah saja,” ujarnya. Dia pun mengharapkan jika Dinas Penataan dan Pengawasan Bangunan (P2B) Jakarta berani melakukan penertiban.


0 Responses to “Kemang Dialihfungsikan Jadi Kawasan Komersil”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: