01
Jan
09

Pertarungan Melawan Leak

ilustrasi

ilustrasi

Pengalaman saya yang tidak sengaja ini terjadi sekitar satu tahun lalu. Ketika itu saya masih sering mengunjungi sebuah dusun kecil yang belum ada sarana listrik dari PLN. Dusun tersebut bernama Muara.

Karena ketiadaan jaringan listrik itu, maka untuk penerangan malam hari, warga dusun tersebut masih menggunakan lampu temple atau dian. Menurut sumber yang sempat kudengar, asal muasal dusun ini dinamakan Muara adalah karena wilayahnya yang memang berada di sisi muara sungai dan pesisir pantai. Persisnya, dusun Muara ini berada di tepi pantai bagian utara  pulau Lombok, propinsi Nusa Tenggara Barat.

Warga dusun ini selain bekerja sebagai nelayan, sebagaian juga bekerja sebagai petani dan pekerja pada sebuah perusahaan budidaya mutiara, yang kebetulan ada di sana. Cerita menyeramkan yang kualami di dusun ini, memang cukup membingungkan juga, karena berhubungan dengan apa yang disebut Leak, yang selama ini setahu saya hanya terkenal di daerah Bali.

Belakangan setelah peristiwa yang saya alami itu, saya akhirnya tahu kalau di Lombok pun tumbuh kepercayaan mengenai Leak ini. Bedanya, kalau di Bali Leak adalah golongan makhluk halus yang jahat dengan sosok yang digambarkan sangat  menyeramkan, sedangkan di Lombok, leak adalah makhluk jejadian penjelmaan dari seseorang yang sedang menuntut ilmu hitam. Di Bali juga ada kepercayaan semacam ini. Namun, makhluk Leak di Lombok ini memiliki ciri yang amat khas, yaitu bentuk tubuhnya tetap seperti manusia tetapi  menyala terang bagaikan kembang api neon berwarna merah.

Konon, makhluk penghisap darah ini akan keluar mencari mangsa pada waktu tengah malam sampai menjelang subuh. Korban yang menjadi incarannya adalah  manusia yang sedang berjalan sendirian di tengah malam. Tapi kalau tidak menemui manusia, maka hewan ternak seperti kambing pun tak urung akan menjadi sasarannya.

Begitulah kepercayaan Leak yang ada di Lombok, khususnya di dusun Muara. Adapun kisah yang saya alami selengkapnya berikut ini…:

Sore itu selepas Ashar, saya yang pada waktu itu  bermukim di kota Mataram, telah berada di dusun Muara yang jaraknya dari rumah saya sekitar 25 Km. Rencananya malam itu saya akan ikut memancing dan melihat cara kerja nelayan setempat menjaring ikan di laut. Disamping itu, saya pribadi memiliki peralatan penangkap ikan yaitu sebuah perahu, mesin ketinting dan jaring. Semua peralatan itu dengan sistim bagi hasil, dikelola oleh  sahabat saya yang kebetulan adalah kepala dusun Muara itu.

Para warga di kampung Muara hampir semuanya telah saya kenal. Bahkan saking akrabnya dengan mereka, saya sudah dianggap sebagai saudara oleh mereka.

Para warga nelayan biasanya bekerja menjaring ikan dimulai sebelum matahari terbenam hingga  lepas waktu Isya.

Selesai ikut menjaring ikan dengan para warga nelayan, saya pun menginap di dusun nelayan itu. Biasanya setiap malam selesai bekerja di laut, para warga laki-laki berkumpul di berugaq (bale-bale) depan rumah kepala dusun yang biasa dipanggil Pak Sri. Mereka berkumpul sambil mendengarkan cerita dan wejangan dari sesepuh dusun tersebut yang bernama Wak Durikah.

Sosok bernama Wak Durikah ini selain orang yang dituakan di kampung itu, juga terkenal akan keahliannya dengan ilmu kebatinan. Tak jarang beliau diminta warga dusun dan juga kampung-kampung lain di sekitarnya, untuk mengobati berbagai macam penyakit secara kebatinan.

Malam itu, sambil menunggu rasa kantuk datang, saya pun turut serta dalam kumpulan para warga itu. Setelah sekian lama berlalu, tak terasa Malam sudah mulai larut. Satu persatu warga minta diri untuk pulang ke rumah masing-masing. Tinggallah saya bersama pak Sri dan Wak Durikah. Kami meneruskan pembicaraan hingga menjelang tengah malam. Sedang asyik-asyiknya mengobrol, tiba-tiba kami  dikejutkan oleh suara anjing-anjing yang menggonggong terus menerus. Wak Durikah kemudian angkat bicara kepada Pak Sri, “Sri, Sepertinya malam ini dusun kita akan kedatangan tamu tak diundang.”

“Iya, Wak! Kalau begitu, kita harus berjaga-jaga malam ini,” ujar Pak Sri.

Agaknya, Wak Durikah telah mengetahui  kemampuan beladiri saya. Buktinya, dia lalu bertanya kepada saya, “Bagaimana Mas Dien, apa mau ikut ronda dengan kami?”

Saya pun menjawab, “Dengan senang hati, Wak!”.

Lalu kami bertiga menyusun rencana untuk menyambut tamu tak diundang yang menurut Wak Durikah, mungkin para perampok atau bisa pula makhluk gaib. Pak Sri diminta memasang umpan seekor kambing yang akan ditambatkan pada sebuah pohon kelapa di sebuah lahan tanah yang agak lapang.

“Kita akan mengintainya dari tempat tersembunyi. Begitu tamu tersebut muncul, maka kita akan segera meringkusnya!” Jelas Wak Durikah, memaparkan strateginya.

Wak Durikah kemudian menyuruh saya untuk tidur lebih dahulu. Bila tamu tak diundang tersebut telah terlihat tanda-tanda kedatangannya, maka beliau akan membangunkan saya.

Saya setuju dengan usulan itu, sebab memang sebenarnya saya merasa lelah sehabis berlayar dengan perahu sore tadi. Saya pun tidur di atas bale-bale, sementara Pak Sri dan Wak Durikah akan mempersiapkan segala sesuatu yang baru saja direncanakan.

Sekitar pukul 02 dinihari, saya dibangunkan oleh Wak Durikah. Katanya mereka telah melihat kedatangan tamu tak diundang itu di kejauhan. Lalu aku bangun dan mengikuti langkah-langkah mereka dengan mengendap-endap ke wilayah pinggiran dusun. Dari situ, kami bisa melihat ke arah barat di mana terdapat areal persawahan yang sangat luas. Dari balik pohon-pohon nyiur (kelapa) yang banyak terdapat di daerah itu kami mengintip ke kejauhan. Wak Durikah menunjuk sebuah sinar merah yang bergerak mendekat. Saya dan Pak Sri juga menatap kearah yang sama. Memang terlihat sinar merah yang sangat terang, apalagi dilihat dari dusun Muara yang gelap.

Wak Durikah berkata dengan setengah berbisik, “Tamu kita ternyata Leak!”

Ya, baru sekali ini saya benar-benar melihat sinar makhluk itu. Sebelumnya saya hanya mendengar ceritanya saja. Rupanya ini kesempatan saya bisa berhadapan langsung dengan makhluk yang katanya sangat buas dan berbahaya itu.

Kami terus memperhatikan Leak yang berjalan di antara pematang sawah dan  kini sudah kian mendekat. Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, tamu tak diundang yang ternyata Leak ini tampak sudah mencium bau darah mangsanya. Pada jarak sekitar 5 meter dari kambing yang dijadikan umpan, makhluk jejadian itu mulai membungkukkan badannya bagai seekor serigala yang akan menerkam mangsanya.

Sementara, dari balik pohon tempat persembunyian yang berjarak kurang dari  empat meter dari titik sasaran, kami telah bersiap-siap dalam posisi mengepung. Terlihat semakin jelas oleh saya bentuk LOeak yang bersinar seperti kembang api neon berwarna kemerahan . Sementara kambing umpan itu terlihat gelisah dengan berjalan mengelilingi pohon tempat dia ditambatkan. Tapi entah kenapa kambing itu tidak mengeluarkan suara mengembiknya.

Waktu yang ditunggu pun tibalah. Leak itu melompat menerjang dalam jarak sekitar tiga meter dan langsung menarik kedua kaki belakang kambing umpan itu dan melilitnya dengan tali tambatan. Setelah itu giliran kaki-kaki depannya. Sejurus kemudian kambing terjerembab tak berdaya. Di saat Leak itu memegang kepala kambing dan sepertinya siap menghisap darah segarnya, saat itu juga kami bertiga melompat keluar dari persembunyian dan mengepungnya.

Wak Durikah  langsung membentak, “Hei, Leak, siapa kamu berani masuk kampung ini?”

Leak itu tersentak kaget dan membalikkan tubuhnya. Mengetahui bahwa hasratnya terganggu, dia itu berdiri lalu menyeringai bagai beruang menunjukkan gigi taringnya yang besar. Sejurus kemudian, dia melompat menyerang Wak Durikah dengan cakarnya yang panjang. Gerakannya benar-benar mirip seperti beruang. Wak Durikah yang mendapat serangan tidak tinggal diam. Dengan gerakan silat yang lincah dia mundur sedikit ke belakang menghindari serangan, lalu mengambil kuda-kuda.

Serangan pertama Leak itu tidak menemui sasaran. Wak Durikah membuka sarung yang melilit di pinggangnya, lalu digunakannya untuk menangkis serangan berikutnya yang ternyata cukup berbahaya.  Tapi sekarang Leak ini mendapat lawan yang sangat tangguh. Beberapa kali dia itu terkena sabetan sarung Wak Durikah yang  telah tersalur tenaga dalam itu.

Si Leak beberapa kali jatuh bergulingan dan mengerang dan kesakitan. Tetapi sebentar kemudian dia bangkit lagi dan tetap terlihat kuat menerjang kembali mencari kelemahan Wak Durikah.

Sementara itu, saya dan Pak Sri hanya menonton pertarungan sengit itu. Setelah kira-kira 15 menit pertarungan, Wak Durikah yang memang telah berusia lanjut ini mulai kewalahan. Nafasnya mulai kendur dan gerakannya mulai melambat. Sementara, tenaga Leak itu seperti tidak pernah habis.

Melihat situasi gawat ini, tanpa dikomando lagi Pak Sri turun membantu Wak Durikah. Pak Sri  menyerang Leak itu dengan sabetan golok yang beberapa kali mengenainya. Anehnya, sambaran golok itu tidak melukai si Leak. Malahan dia semakin beringas dan berbahaya. Kabarnya, bila orang tergores sedikit saja oleh cakaran Leak ini, maka orang itu akan seperti tersengat listrik dan tubuhnya akan terasa panas seperti dipanggang. Apalagi jika cakaran itu sampai menusuk atau merobek ke bagian dalam kulit, maka orang tersebut bisa meninggal.

Rupanya, sial bagi Pak Sri, yang saya tahu hanya bermodalkan kepandaian silat biasa itu. Setelah terus menyerang, akhirnya dia terkena cakaran Leak yang memang tangguh itu. Melihat keadaan demikian, saya pun tidak bisa tinggal diam lagi. Tanpa berpikir panjang, saya melompat masuk ke arena perkelahian, lalu menarik lengan Pak Sri dan membawanya menjauh. Badan Pak Sri terlihat mulai bergetar. Segera saya kembali ke arena perkelahian dengan golok Pak Sri yang kini ada di tangan saya.

Dengan kemampuan yang saya miliki, saya pun menyerang Leak itu, berusaha menjauhkannya. Wak Durikah yang dari tadi dengan susah payah menghadapi Leak itu juga turut membantu.

Ketika leak itu sudah berfokus menghadapi serangan golok saya, saya pun berteriak  meminta Wak Durikah  mundur dari pertempuran untuk  mengobati Pak Sri. “Wak, biar saya yang hadapi setan ini! Pak Sri perlu diobati!” Peikikku.

“Ya, hati-hati, Mas!” Balas Wak Durika. Dia segera mendapati pak Sri.

Saya pun kembali focus pada pertarungan. “Betapa kuatnya Leak ini!” Pikir saya dalam hati. Kelihatan kalau ilmu yang ditekuninya telah cukup tinggi. Saya rasanya ingin cepat-cepat mengakhiri perkelahian ini. Maka, saya pun mundur beberapa langkah lalu melemparkan golok yang ada di tangan saya ke arah leak itu dengan maksud agar dia menghentikan serangan sejenak dan saya bisa bersiap dengan tenaga inti dari ilmu 7 Aulia. Leak itu memang berhenti menyerang, lalu memandang tajam ke arah saya. Kemudian seperti tak ingin berlama-lama, dia kembali menerjang bagai seekor serigala yang lapar.

Sementara saya hanya berdiri tegap tak bergeming. Hanya hembusan nafas yang saya keluarkan sedikit lewat mulut. Leak itu seperti mengerem kakinya dan terseret beberapa depa ke belakang. Namun dia segera melompat lagi dan menerjang. Kali ini saya hanya melangkahkan kaki kanan sedikit. Leak itu terpelanting sambil mengerang menahan sakit. Lalu dia berdiri berdiam seolah-olah sedang mengumpulkan kekuatan intinya. Leak itu dengan geramannya melompat lagi menerjang. Saya mencoba menahannya dengan sedikit hembusan nafas, tapi sia berhasil mendekati saya dengan tenaga inti yang sia miliki.

Saya terpaksa agak sedikit surut ke belakang. Saya berpikir bahwa sudah cukup saya bermain-main dengan makhluk jahanam ini. Maka ketika dia mencoba merangsek saya lebih dalam lagi, sebenarnya bila saya mau saya bisa saja membunuhnya dengan mudah dengan satu gerakan yang pernah diajarkan oleh guru saya, tapi saya tidak ingin melakukannya. Hanya dengan satu bentakan, “Diam kamu!” Maka  diamlah Leak itu, tak berkutik bagai patung. Hanya matanya saja yang melotot memandangi saya. Kemudian dengan mudah saya ikat tubuhnya dengan tali jangkar perahu yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Wak Durikah dan Pak Sri beserta para warga dusun yang rupanya mendengar pertarungan itu segera datang mendekat.  Lalu Wak Durikah dan Pak Sri menginterogasi si Leak.

“Kamu siapa, dan dari kampung mana?” Tanya Wak Durikah.

Leak itu tidak mau menjawab walau sudah diancam dengan acungan golok oleh Pak Sri.

Karena Leak itu tetap membandal, kemudian saya yang mengancamnya, “Kalau kamu tidak mau menjawab, saya yang akan membunuhmu dengan dzikir!”.

Rupanya dia gentar juga. Buktinya, si Lewak akhirnya menjawab bahwa dia berasal dari kampung yang bernama Teben. Kampung Teben ini adalah sebuah wilayah yang berada di atas bukit yang terkenal dengan pohon bambunya yang besar-besar di Lombok Utara. Para nelayan biasa membeli bambu di kampung ini, untuk dibuat katir atau sayap perahu khas Lombok.

Kemudian Wak Durikah bertanya lagi, “Ilmu apa yang sedang kamu cari?”

Leak itu menjawab, “Saya hanya mencari darah segar untuk memperkuat ilmu sihir Bangru.”

Sekedar catatan, di daerah lombok, Bangru sangatlah terkenal. Hampir mirip dengan santet. Orang yang terkena Bangru maka ia akan dapat diperintah apa saja oleh si dukun Bangru. Bahkan orang yang terkena Bangru bisa saja menjadi gila. Saya pernah melihat seorang yang terkena sihir Bangru ini, yakni seorang remaja putri SMU. Dia berteriak-teriak di tengah jalan  lalu melucuti pakaiannya sendiri hingga telanjang bulat. Sungguh ilmu yang sangat hebat dan jahat, bukan?

Setelah matahari merah mulai muncul dari timur pantai, Leak yang masih terikat di pohon kelapa itu kembali berubah ke bentuk manusia aslinya. Cahaya merah seperti neon itu meredup sampai akhirnya hilang sama sekali. Wak Durikah, Pak Sri dan para warga dusun bersepakat, bahwa siang hari nanti, Leak itu akan diantar dan diserahkan kepada kepala kampung Teben.

Sewaktu minum kopi pagi di rumah Pak Sri, Kepala Dusun Muara, Wak Durikah berkata, “Beruntung, Pak Sri hanya terkena goresan kuku leak, sehingga hanya sebentar rasa panasnya sudah bisa diobati.”

Selanjutnya, Pak Sri bertanya kepada saya, “Ilmu apa yang kau gunakan untuk melumpuhkan leak itu?” Saya hanya menjawab sambil tersenyum, “Saya pergunakan Ilmu Allah!”

Begitulah  persaudaraan saya dengan warga dusun Muara, tetap terjalin hingga kini walau saya sekarang telah bermukim di Ibukota Negara. Suatu saat, kalau Allah mengizinkan, saya akan mengunjungi lagi kampung tanpa aliran listrik itu.


0 Responses to “Pertarungan Melawan Leak”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: