01
Jan
09

Misteri Ilmu Pangleakan

Sewaktu berkunjung ke Bali beberapa waktu lalu, Misteri menyempatkan diri melongok ke daerah-daerah angker dan menyimpan misteri. Beberapa daerah itu antara lain adalah Gunung Kawi Bali, di Tampak Siring. Di sana banyak ditemui kuburan tua Hindu Bali.

Menurut salah seorang pemandu wisata, semua pekuburan di Bali memang seram dan mencekam, karena ada penjaga gaibnya, yaitu Dewi Durga. Dia adalah isteri Siwa yang diusir  dari kayangan karena melakukan kesalahan. Sebagai hukumannya, Dewi Durga ditugaskan sebagai penjaga kubur.

Kuburan tentu saja ada kaitannya dengan Leak. Para penganut Leak umumnya orang-orang yang sesat, karena patah hati, sakit hati atau dendam kesumat.

Berkaitan dengan Leak ada suatu cerita yang sangat mencekam. Hal ini dialami sendiri oleh pemandu waisata Misteri dan rombonga. Ceritanya, suatu malam sepulang tugas, sang tour leader  yang keberatan disebut identitasnya ini pulang melewati daerah pekuburan. Waktu itu hujan rintik-rintik dan udara sangat lembab. Di tengah suara jangkrik dan lolongan anjing, sayup-sayup dia mengdengar suara seperti orang mengobrol. Suara itu tidak bisa terdengar jelas, seperti gumaman saja. Kadang diselingi suara merintih dan tertawa.

Menurutnya, suara tersebut pertanda bahwa kaum Leak sedang mengadakan pertemuan dan saresehan, pada pukul 24.00, baru mereka akan memulai kegiatan. Biasanya mereka selalu mengadakan hubungan gaib dengan roh-roh pekuburan dan penguasanya, Dewi Durga. Sebagai sarana penghubung, mereka membakar dupa dan memberi sesajen di atas Sanggah Cucukan. Anehnya, kegiatan ini hanya bisa dilihat oleh kaum Leak saja, dan tidak bisa dilihat orang awam.

Leak menggunakan Balai Bengong sebagai tempat kegiatannya, termasuk penganut Leak tingkat rendah. Keistimewaan mereka, bila upacara sakral sudah dilakukan, para Leak akan menukar baju. Baju yang ditanggalkan disembunyikan di suatu tempat, dan dia membungkus dirinya dengan kain putih. Sesudah itu, tubuh kasarnya tidak bisa dilihat lagi oleh manusia. Mereka bisa menyerupai makhluk atau benda apa saja. Mereka bisa menjadi makhluk yang menakutkan, bisa pula menjadi dokar. Dokar ini gemar mencegat petani buah yang hendak pergi ke pasar pada malam hari. Petani buah di pedesaan Bali biasa membawa dagangan sejak pukul satu dan tiba di pasar pada waktu subuh, dengan menggunakan dokar.

Seorang petani buah pernah diganggu Leak yang berwujud dokar. Ketika hendak ke pasar, dia menaiki dokar yang ditemuinya di jalan. Namun paginya, orang-orang menemukannya sedang duduk di pelepah kelapa, lengkap dengan pikulan salak yang dibawanya. Dia baru sadar ketika diperciki Tirta Suci oleh seorang Empu. “Saya diganggu Leak, karena ada seorang yang sirik dengan kemajuan usaha saya,” ujarnya.

Gangguan lain juga pernah dialami pasangan penganten baru. Seperti sebuah kisah yang terjadi di Desa Tabanan. Kedua pengatin diganggu oleh Leak dengan wujud yang menakutkan, untuk mengganggu acara bulan madu mereka.

Para Leak beroperasi antara pukul 24.00 malam sampai 03.00 pagi. Sebelum matahari terbit, mereka harus kembali pada asalnya. Jika terlambat, mereka tidak akan bisa kembali menjadi manusia. Resiko tersebut merupakan kesepakatan dan perjanjian antara penganut Leak dan Dewi Durga. Perjanjian ini tidak bisa diubah oleh siapapun, karena ini menyangkut perjanjian antara setan dengan manusia sesat.

Leak-Leak yang menggunakan pekuburan sebagai padepokan, tergolong yang lebih rendah. Ilmu pangleakan yang tinggi biasanya dimiliki secara perorangan, dan umumnya tidak seorang pun yang mengetahui kalau dia penganut Leak. Begitu pula anak, isteri, atau suaminya, tidak pernah menduga bahwa kepala keluarganya penganut Leak.

Biasanya penganut Leak tingkat tinggi memiliki kamar khusus dalam rumah utama. Saat melakukan kegiatannya dia akan mengurung diri dalam kamar khusus untuk membuat sesajen dan membakar dupa. Kemudian dia menelungkupkan tubuhnya seperti orang tidur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan kain putih. Setelah mantra dibaca, roh orang tersebut keluar meninggalkan badan kasarnya.

Leak yang berilmu tinggi tidak membawa serta badan kasarnya saat beroperasi. Badan kasar ditinggalkan di kamar khusus.

Ilmu Leak bisa dimiliki oleh siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Penganut Leak umumnya sangat tertutup, karena dia tidak bercerita kepada siapapun meski kepada keluarganya sendiri. Rahasia tersebut baru bisa diketahui, ketika dia akan menghadapi ajal. Orang tersebut akan mengalami sekarat yang panjang dan mengeluarkan busa dari mulutnya. Saat itulah, karena tidak tahan mengalami penderitaan yang amat sangat, dia akan memanggil keluarganya dan menceritakan rahasianya bahwa dia penganut Leak. Dia akan memberitahukan tempat penyimpanan jimatnya, yang berupa bandul atau ikat pinggang. Leak sekarat tersebut meminta agar jimatnya dibakar. Setelah itu, barulah dia menemui ajalnya.

Penganut Leak, bisa mewariskan ilmunya kepada anak atau cucunya. Hanya ada satu kesempatan saat menurunkan ilmu ini. Saat Leak tua sekarat akan meninggal, biasanya dari mulutnya akan keluar busa terus menerus. Saat itulah si pewaris ilmu harus menyedot habis semua busa yang membuih dari mulutnya. Begitu busa habis dan mengering disedot, merengganglah nyawa si Leak tua. Maka pada saat itu, ilmu Leak tua sudah berpindah pada si pewarisnya.

Menurut cerita, penganut Leak diharuskan memakan bangkai bintang yang sudah rusak dan busuk. Bangkai binatang, seperti bangkai anjing, menjadi makanan wajib bagi penganut Leak. Mungkin itu sudah merupakan azab atau persyaratan untuk mempertajam ilmunya.

Gangguan Leak biasanya dirasakan masyarakat kampung yang bermukim dekat dengan tempat Leak tinggal. Karena jam operasinya yang pendek, tentu saja tidak banyak waktu bagi Leak untuk bepergian terlalu jauh.

Setinggi apapun ilmu sesat, pasti ada orang pintar yang tahu cara untuk menumpasnya. Orang tersebut harus mempunyai keberanian dan iman yang teguh. Masyarakat yang merasa terganggu dengan keberadaan Leak, bersatu bersama pemuka agama melakukan pemberatasan.

Di pekuburan Balai Bengong, bila ditemukan adanya sajen di Sanggah Cucukan, pasti akan ditemukan pula tumpukan baju para penganut Leak yang sedang mengadakan kegiatan. Oleh masyarakat, benda-benda tersebut dikumpulkan dan dibuang ke laut. Laut adalah tempat segala prahara. Dengan demikian, maka musnahlah kelompok Leak tersebut. Mereka tidak bisa kembali ke alam manusia dan selamanya menjadi pengikut Dewi Durga.

Cara menumpas Leak berilmu tinggi, tidak jauh berbeda. Jika ada seseorang yang dicurigai penganut Leak, masyarkat akan terus mengawasi gerak-geriknya. Jika orang yang dicurigai tersebut sedang membakar dupa serta memasang sajen, lalu menelungkupkan tubuhnya di atas dipan, maka pertanda dia sedaag menjadi Leak. Memusnahkannya cukup mudah. Tubuh yang sedang telungkup tersebut, dipindahkan ke tempat lain dengan posisi telentang. Sementara sesajen dan dupa dibuang ke laut. Maka orang itu tidak bisa kembali menjadi manusia. Dia akan menjadi penghuni kerajaan Leak.

Sebagian masyarakat Bali mengetahui benar cara menghadapi Leak. Bila diganggu makhluk menyeramkan, si korban mempersiapkan alat pemukul untuk menunggu kedatangan si makhluk berikutnya. Begitu berhadapan, bukan Leak di depannya yang dipukul, si korban justru menghantam sekeras-kerasnnya arah belakang tubuh. Mengapa demikian? Karena wujud yang berdiri di depan si korban merupakan tipuan atau bayangan ilmu sihir si Leak. Sedangkan si Leak sebenarnya berdiri di belakang tubuh korban. Pukulan pasti mengena, dan si makhluk akan menderita hebat. Pukulan cukup sekali saja, karena pukulan kedua atau berikutnya justru berakibat si Leak menjadi semakin tangguh.

Meski sekali, pukulan itu mampu membuat si Leak lari tunggang langgang dan kembali ke tempat persembunyiannya. Setelah kejadian itu, dia akan sakit dan sekarat dari hari ke hari. Keesokan harinya, biasanya akan datang utusan keluarga si Leak, meratap meminta obat pada si pemukul. Jangan diberi ampun, sebab khawatir begitu sembuh Leak akan semakin ganas. Katakan saja, “Kalau mau sembuh, makanlah kotoran manusia.” Dia tidak akan membantah, dan segera melaksanakan anjuran tersebut. Setelah itu, si Leak kontan sembuh.

Memang, begitulah syarat dari Dewi Durga. Apa saja yang disuruh oleh orang yang berhasil mempercundanginya, harus dipatuhi agar sembuh. Aneh, bukan!


1 Response to “Misteri Ilmu Pangleakan”


  1. 16/01/2009 pukul 10:37

    Selamat hari,
    Beberapa waktu yang lalu aku sempat membaca tulisan yang berjudul Misteri Ilmu Pangleakan di blog kamu. Awalnya hanya ingin membaca sekilas saja karena aku sudah sering membaca tulisan tentang itu, tetapi setelah aku baca beberapa paragraf ternyata ada perbedaan dengan bahan-bahan yang selama ini aku baca. (sorry coment aku rada serius…) Misalnya pada beberapa pernyataan berikut ini;
    “Para penganut Leak umumnya orang-orang yang sesat, karena patah hati, sakit hati atau dendam kesumat”
    “…kaum leak mengadakan sedng pertemuan dan sarasehan, pada pukul 24.00, baru mereka akan memulai kegiatan.”
    “Kemudian dia menelugkupkan tubuhnya seperti orang tidur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan kain putih.”
    “Menurut cerita, penganut Leak diharuskan memakan bangkai binatang yang sudah rusak dan busuk.”
    “Gangguan leak biasanya dirasakan masyarakat kampung yang bermukim dekat dengan tempat Leak tinggal.”

    Coba bandingkan dengan beberapa tulisan berikut yang aku kutip dari beberapa media lokal-spiritual-di Bali yang berhasil aku kutip:
    Dari “Majalah Kebudayaan Bali, TAKSU edisi 168. Pebruari-Maret/VIII/2007 hlm. 60”. Dinyatakan bahwa:
    “Leyak (dalam tulisan ini ditulis bukan leak, dan ada penjelasan etimologinya) jika dimaknai ternyata merupakan unsur-unsur yang berkaitan dengan Tuhan dan tidak ada satupun (baca:maksudnya unsur-unsur pembentuk yang dikaji secara etimologi itu, guna) yang menerangkan tentang kejahatan. Oleh sebab itulah sesungguhnya Leyak merupakan suatu ilmu yang mengajarkan tentang kemoksan atau aji kalepasan. (Moksa adalah tujuan akhir manusia dalam Ajaran Agama Hindu yang proses pencapaiannya dapat dilalui dengan berbagai cara, guna).

    “Sesungguhnya seseorang yang beroperasi sebagai Leyak adalah orang yang sangat mumpuni dalam segala bidang. Sebab orang tersebut harus ngelinggihan aksara dalam dirinya.”

    “Pada intinya ajaran ini (baca: kata ini mengacu pada kata Ajaran Tantrayana sebagai sumber dari aji pangleyakan, guna) bermakna pemusatan pikiran yang baik memuja Tuhan untuk kesempurnaan lahir dan bathin.”

    Dari “Majalah Kebudayaan Bali, TAKSU edisi 165. Nopember-Desember/VII/2006 hlm. 165”. Dinyatakan bahwa:
    “…apakah leak ada rapatnya, atau reuni? Yang benar adalah “dalam dunia leak sama seperti perkumpulan spiritual, pada hari-hari tertentu pada umumnya Kajeng Kliwon, kaum leak mengadakan puja bakti bersama memuja Siwa, Durga, Bherawi yang biasanya dipusatkan di Pura Dalem atau Kuburan, Prajapati dalam bentuk Ndihan, bukan kera, anjing, dan lain-lain.”

    “Dengan demikian sekali lagi ditekankan, bahwa ilmu leak bukan ilmu mengubah wujud. Jadi kalau ada yang bilang melihat kera, pitik bengil dan lain-lain, yang melihat kena sihir.”

    “…tidak gampang ngeleakin orang, apalagi orang tersebut kuat iman, rajin meditasi, berdoa. Kalau sudah begini, sampai berbuih pun mulut kita komat-kamit baca mantra, maka tak bisa bikin takut, paling-paling diledekin, kok tidak berubah?”

    Itu dulu beberapa tulisan yang berhasil aku temukan. Sebelumnya aku minta maaf telah memposting coment ini. Bukan bermaksud membantah apalagi menyalahkan atau menggurui. Hanya kebetulan aku membaca tulisan sejenis, di pulau tempat aku tinggal dan dilahirkan: Bali.
    Terima kasih.
    (Terima kasih atas tulisannya yang inspiratif, aku jadi penasaran dan meriset hal ini secara lebih serius. Semoga dalam waktu dekat sudah bisa aku posting).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: