01
Jan
09

Kegaiban Jenazah Gadis Yang Salehah

Sebuah kuburan tua terletak di halaman surau yang hendak diperluas menjadi sebuah masjid. Karena rencana perluasan ini, maka dapat diperkirakan kuburan tua dimaksud nantinya akan terletak di dalam bangunan masjid, bahkan tepat berada pada mihrab. Oleh karena itu maka setelah melewati musyawarah warga, akhirnya diputuskan akan membongkar kuburan tua yang tak jelas identitasnya ini.

Setelah kuburan tua tersebut dibongkar, keajaiban pun berlangsung. Kain kafan pembungkus tubuh mayat masih terlihat utuh dan putih bersih, bahkan mengeluarkan cahaya yang menyilaukan mata orang yang melihatnya.  Selain itu, tubuh sang mayat juga masih utuh, seolah-olah si mayat baru menghembuskan nafas terakhir, padahal dia telah terkubur ratusan tahun lamanya. Wajah si mayat juga nampak tersenyum bahagia.

Siapa sosok jenazah yang mendapat kemuliaan dari Allah SWT tersebut? Dan, apa sajakah amal ibadah yang telah dia kerjakan selama hidupnya di dunia, sehingga jasadnya menunjukkan fenomena kegaiban seperti yang diceritakan di atas? Berikut ini kisahnya seperti yang diceritakan Zailani kepada Misteri beberapa waktu yang silam…:

Asal muasal diketahuinya kuburan tua yang berada di dalam halaman surau yang akan dibangun menjadi masjid itu adalah melalui mimpi Zailani, seorang pemuda yang sangat taat beribadah. Shalat tahajudnya dan shalat dhuhanya tidak pernah tinggal. Selain itu, Zailani juga sangat rajin puasa sunnah Senin-Kamis. Karena ketakwaannya, maka oleh warga Desa Ambang Pakiduhan, Kecamatan Pelembayan, Kabupaten
Agam, Sumatera Barat, Zailani dipilih sebagai bendahara pembangunan surau yang akan diperluas menjadi masjid.

Selama ini, Zailani mendengar cerita dari orang-orang tua di desanya, bahwa di halaman surau yang akan diperluas menjadi masjid itu terdapat kuburan seorang gadis santri dari Pesantren Padang Panjang. Gadis tersebut bernama Siti Aminah. Semasa hidupnya dia hafal Qur’an 30 juz dan sangat shalelah.

Diperkirakan, Siti Aminah meninggal dunia ratusan tahun lalu. Sayangnya, di mana letak kuburan Sitri Aminah ini tidak seorangpun warga yang mengetahuinya secara persis. Tanda-tanda kuburan seperti batu nisan memang sudah lama hilang karena tertimbun tanah.

Misteri keberadaan makam gadis salehah tersebut akhirnya terjawab juga. Suatu malam Zailani bermimpi. Dalam mimpinya, dia merasa datangi oleh seorang gadis cantik berbusana muslimah. Si gadis tidak datang seorang diri, melainkan ditemani perempuan separuh baya.

Di dalam mimpi tersebut. Zaelani merasa pertemuan dengan si gadis terjadi di halaman masjid yang sudah siap dibangun. Gadis cantik ini sangat ingin bertemu dengan pemuda bernama Zaelani.

Dalam hati, Zailani diliputi tanda tanya, “Siapa gadis cantik yang mencariku ini?” Bisiknya dalam hati. Maklum saja, selama ini  dia memang tidak punya teman perempuan selain beberpa gadis di desanya yang kebetulan jadi murid mengajinya.

Dari kejauhan gadis itu tersenyum manis menyambut kedatangannya. Jantung Zailani berdebar-debar. Dalam hati, dia sangat mengagumi kecantikan si gadis. Wajahnya putih bersih dan amat berseri-seri. Sungguh, di desanya tidak ada gadis secantik dia.

“Assalammu’alaikum!” Sapa si gadis. Suaranya sangat merdu seperti buluperindu.

“Wa’alaikum salam!” Jawab Zailani semakin terpesona melihat kecantikannya.

“Namaku Siti Aminah. Gadis yang kuburannya nanti akan tepat di mihrab masjid ini. Pindahkan kuburanku ke tempat lain, Bang!” Pintanya.

Zailani hanya mengangguk. Sesaat kemudian, gadis itu pergi meninggalkannya dan Zailani terjaga dari mimpinya. Dia segera bangkit dan duduk di atas tempat tidurnya. Berulang kali dia beristighfar, mengucapkan tasbih, tahmid, takbir dan tahlil.

Jarum jam dalam kamarnya ketika menunjukkan waktu pukul dua dini hari. Zailani menuju kamar mandi dan berwudhu untuk mengerjakan shalat Tahajud. Selesai shalat Subuh, dia menceritakan mimpinya ini pada ibunya yang sudah renta.

“Mungkin mimpimu itu benar. Orang-orang tua kita dulu menceritakan pada ibu, bahwa di halaman surau itu memang ada kuburan gadis yang hafal Al-Qur’an 30 juzz. Gadis itu sangat taat pada Allah SWT dan pada kedua orangtuanya,” jawab ibunya menanggapi mimpi Zailani.

“Tahun berapa dia meninggal dunia, Bu?” Tanya Zailani.

“Ibu tidak tahu tahunnya. Yang pasti dia meninggal dunia dalam keadaan masih suci. Oya, di desa ini, orangtua yang bisa menjelaskan tahun berapa Siti Aminah meninggal dunia mungkin cuma Anggut Mukhtar. Cobalah kamu temui dia agar lebih jelas lagi,” kata ibu Zailani menjelaskan.

Orang yang disebut sebagai Angut Mukhtar ini usianya sudah mencapai satu abad lebih. Diperkirakan dia lahir pada tahun 1909. Kendati sudah sangat tua, tapi pendengaran, ingatan dan penglihatannya masih sangat normal. Hanya saja, ia tidak lagi bisa berjalan alias jompo. Maklum saja, sejak dua puluh tahun yang lalu, dia menderita encok dan kerapuhan tulang. Untuk berjalan harus dibantu dengan tongkat, sebab tulang punggungnya bongkok.

Hari itu, selepas sholat Magrib Zaelani seorang diri bertamu ke rumah Anggut Mukhtar yang sangat sederhana. Kepada si kakek renta ini dia menceritakan mimpi yang dialaminya tadi malam.

“Kalau aku tak salah ingat, gadis bernama Siti Aminah itu meninggal dunia hampir seratus tahun silam. Saat dia meninggal, usia Anggut baru sepuluh tahun. Memang, berbagai peristiwa gaib terjadi saat dia hendak dikuburkan. Misalnya saja, hari di musim kemarau panyang yang tidak pernah turun hujan  hampir selama satu bulan, tiba-tiba hujan turun sangat lebat.  Tanah yang semula retak-retak menjadi basah dan lembut. Siang hari biasanya panas menyengat tubuh, di hari kematiannya berawan tapi tidak turun hujan. Tanah kuburannya sangat gembur sehingga mudah digali.

Sesaat setelah jasadnya diletakkan di liang lahat. Tanah perlahan jatuh dari atas menutupi liang lahat hingga membentuk gundukan,” cerita Anggut Mukhtar, sesaat kematian setelah dia mendengarkan cerita Zaelani tentang mimpinya bertemu dengan gadis yang mengaku sebagai Siti Aminah.

“Apa amalan Siti Aminah sehingga dia mendapat karomah dari Allah SWT, Gut?” Tanya Zailani.

“Setahuku, gadis itu memang sangat taat kepada Allah, dan taat kepada kedua orangtuanya. Selain itu, dia sangat shalelah. Sepertiga malam waktunya dia habiskan untuk beribadah sunnah. Selesai shalat Subuh, dia menghafal Al-Qur’an hingga terbit fajar, kemudian dia mengerjakan shalat Dhuha. Mungkin karena kesahalehannya itu, dia mendapat karomah dari Allah SWT,” cerita Anggut Mukhtar lagi.

“Apa keluarganya masih ada yang tinggal di kampung ini?” Tanya Zailani.

“Tidak ada. Kedua orangtuanya berasal dari Candung. Ayah danh Ibu Siti Aminah tinggal di desa ini hanya untuk mengajar anak-anak kampung mengaji. Siti Aminah merupakan anak tunggal mereka. Ketika dia meninggal dunia dia sudah duduk di kelas tiga madrasah waktu itu,” jelas Anggut Mukhtar.

“Mengapa warga di sini tidak memberikan tanda kuburnya?”

“Tanda yang dibuat warga berupa nisan hanya terbuat dari kayu broti yang mudah sekali lapuk. Ketika kayu broti lapuk, tanda kuburannya menjadi hilang. Selain itu, sejak wabah muntaber menyerang desa ini, banyak warga yang pergi mencari tempat tinggal di daerah lain. Mereka menduga wabah muntaber sebagai kutukan dari makhluk halus penunggu hutan di pinggir kota.

Kepercayaan itu timbul setelah beberapa warga desa pergi ke dalam hutan menebang kayu untuk membuat rumah. Pada malam harinya, mereka diserang muntaber. Semuanya meninggal dunia. Selanjutnya wrga desa yang lain juga mengalami nasib sama.

Karena peristiwa itu desa ini pernah ditinggalkan penduduknya dan menjadi hutan belantara. Lima belas tahun kemudian, warga yang dahulu pergi meninggalkan desa, kembali ke desanya. Sawah-sawah yang dahulu mereka tanami padi, kembali mereka garap.

Beberapa kuburan keluarga mereka di belakang rumah hanya diberi tanda nisan terbuat dari kayu menjadi lapuk tertimbun sampah dan tertutup tanah. Termasuk kuburan Siti Aminah, sehingga kuburannya tidak lagi diketahui dimana letaknya,” cerita Anggut Mukhtar menjelaskan.

Setelah mendengar penjelasan dari Anggut Mukhtar, pada pagi keesokan harinya Zailani memerintahkan Pak Razali dan Pak Saman untuk menggali kuburan Siti Aminah, sesuai dengan petunjuk yang diterima lewat mimpi. Setelah hampir satu meter tanah digali, Pak Razali menemukan tanda-tanda tanah kuburan dimaksud. Ya, biasanya tanah kuburan ketika digali tanahnya akan lebih lembut. Hanya permukaan saja yang keras, tapi di bawahnya agak gembur.

Penggalian terus dilakukan hingga akhirnya mendapat kepastian saat skop penggali tanah menyentuh papan penutup liang lahat. “Sepertinya kita tidak salah menggali!” Pak Saman berseru.

Perlahan Pak Saman menarik tanah dengan cangkul sehingga satu persatu papan penutup liang lahat terlihat. Meskipun papan penutup liang lahatnya sudah berusia seratus tahun, tapi anehnya masih terlihat baru, seolah-olah baru dipakai. Papan penutup liang lahatnya tidak lapuk di makan rayap.

Saat papan penutup itu dibuka satu persatu, tiba-tiba sinar putih keluar dari kain kafan yang masih terlihat baru dan tetap berwarna putih bersih. Sinar putih itu sangat menyilaukan mata orang yang memandangnya.

Sambil berulang kali memuji kebesaran Allah SWT, dibantu Pak Razali, Pak Saman  lalu mengangkat jenazah Siti Aminah ke atas. Warga desa yang berdiri menyaksikannya terperanjat melihat jasad Siti Aminah yang masih utuh. Wajahnya putih berseri-seri. Fadis itu seperti layaknya sedang tidur pulas saja.

Semua urang takjub dibuatnya. Bahkan, berulangkali Zailani menyebut asma Allah sambil menitikkan air matanya. Wajah Siti Aminah benar-benar sama seperti yang dilihatnya dalam mimpi.

Siti Aminah yang tersenyum itu nampak penuh kebahagiaan, bagaikan pengantin baru selesai menikmati malam pengantinnya. Kini dia seolah-olah menikmati bulan madunya. Sebagaimana yang diceritakan Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya, bahwa bagi hamba-hamba yang shalelah, di alam kubur ditemani pria berwajah sangat tampan. “Berbahagialah Anda wahai tamuku dengan apa yang kau terima pada hari ini. Inilah sesuatu yang telah dijanjikan Alah untukmu.” Ahli kubur bertanya, “Siapa gerangan Anda? Saya belum pernah melihatmu ketika berada di dunia?” Ia menjawab, “aku ini amalmu yang shaleh. Maka sengaja aku datang kemari untuk menemanimu, hingga hari berbangkit.

Kemudian berkata amal shalehnya. “Mari kita tidur”. Kemudian keduanya tidur laksana tidurnya pengantin baru. Sampai akhirnya mereka terjaga dari tidur panjang pada saat sangkakala ditiup oleh Malaikat Israfil.” Demikian menurut sebuah hadits.

Dalam tidur panjangnya yang lelap, jenazah Siti Aminah diangkat dari dalam liang lahat. Sejenak disemayamkan di pelataran masjid. Kemudian dikuburkan kembali di belakang masjid. Zailani menyuruh Pak Jamal menembok kuburan sekitar satu jengkal dari tanah dan meletakkan batu nisan. Kuburan Siti Aminah dipagar agar tidak dimasuki hewan ternak warga.

Pada malam hari setelah prosesi penguburan tersebut, Zailani kembali bermimpi bertemu Siti Aminah. Dalam mimpinya, Siti Aminah datang menemuinya di masjid yang sudah selesai dibangun. Padahal saat itu, pembangunan masjid baru saja membuat pondasi. Siti Aminah datang tidak seorang diri, melainkan ditemani seorang perempuan separuh baya sebagai muhrimnya.

“Assalammu’alaikum!” Kata Siti Aminah mengucapkan salam.

Zailani menjawab salam itu. Dia lalu mempersilahkan Siti Aminah masuk ke dalam masjid.

“Terima kasih, Abang telah memindahkan kuburanku,” cetus Siti Aminah penuh haru. Dia tetap memangil Zaelani dengan sapaan Abang. Saat ia meninggal dunia, usia Siti Aminah diperkiraan baru genap delapan belas tahun, sedangkan saat ini usia Zailani memang lebih tua 6 tahun darinya.

“Apakah kau bahagia berada di tempat yang baru?” Tanya Zailani.

Siti Aminah hanya mengangguk. Dia tersenyum manis tipis.

Zainal sangat terpesona menatap kecantikan wajah Siti Aminah. Dalam hatinya, timbul keinginan memiliki isteri yang cantik dan shalelah seperti Siti Aminah. Dalam hati dia pun berandai-andai. “Andaikata aku memiliki isteri seperti Siti Aminah, betapa bahagianya hidupku, sebagaimana yang disebutkan Rasulullah SAW dalam salah satu hadits riwayat Bukhari beliau bersabda, ‘Dunia ini adalah perhiasan. Sebaik-baik perhiasan dunia, isteri shalelah.”

“Abang melamun dan berandai-andai punya isteri seperti Siti?” Tanya Siti Aminah. Zailani hanya tersipu malu.

“Bukankah Allah SWT telah berjanji pada orang-orang beriman, bertakwa dan mengerjakan amal shaleh di dunia. Di akhirat nanti Allah SWT akan menempatkannya di dalam surga dan Abang akan mendapatkan bidadari-bidadari yang tetap perawan. Mereka penuh rasa cinta dan sebaya umurnya dan Abang akan tinggal dalam surga selama-lamanya. Di akhirat tidak ada kematian lagi. Di sana kehidupan abadi,” lanjut Siti.

Zailani hanya mengangguk. Sementara perempuan paruh baya yang bersama Siti Aminah hanya diam membisu duduk di sisinya.

“Bang, kami mohon diri. Assalammu’alaikum!” Sesaat Siti bersama perempuan pendampingnya hilang dari hadapan Zailani, dan dia terjaga dari mimpinya.

Zaelani bangkit dari atas tempat tidur. Berungkali dia mengucapkan tasbih, takbir dan tahmid. Jarum jam di dalam kamar tidurnya menunjukkan pukul dua dini hari. Zailani menuju kamar mandi. Dia segera mengambil air wudhu untuk mengerjakan shalat tahajud.

Pada pagi harinya, Zailani menceritakan mimpi itu pada ibunya. “Allah SWT telah memberikan salah satu bukti dari kekuasaannya padamu. Kau bisa bercerita dengan orang yang telah meninggal dunia ratusan tahun lalu. Biasanya, orang yang bermimpi dengan orang yang telah meninggal dunia, dia hanya diam membisu tidak berkata-kata,” jawab ibunya setelah mendengar cerita itu.

Peletakkan batu pertama pembangunan masjid bertepatan dengan hijrah kaum muslimin dari kota Mekkah ke kota Madinnah. Kemudian, pembangunannya selesai pada 1 Muharram 1428 H. Karena itulah Zailani mengusulkan nama Al Muhajirin untuk nama masjid di desanya itu.

“Muhajirin berarti sekelompok umat Islam yang pergi berhijrah meninggalkan kampung halamannya di Mekkah menuju kota Madinah. Kelompok ini merupakan generasi pertama dari umat Islam yang teguh keimanannya pada Allah SWT dan Rasul-Nya. Dalam kaitannya dengan surau kecil berubah menjadi masjid megah juga merupakan perpindahan dari sikap hidup kaum muslimin di sini. Kini untuk shalat Jum’at tidak perlu lagi harus berjalan kaki sejauh 2 km. Cukup dikerjakan di sini,” papar Zailani menerangkan argumentasinya soal nama masjid yang diusulkannya.

“Kami setuju dengan nama masjid yang diusulkan Zailani. Hijrah dan kaum Muhajirin merupakan awal sejarah dari perkembangan Islam. Dengan hijrahnya Rasulullah SAW bersama para sahabatnya, Islam berkembang pesat di Madinnah dan daerah-daerah di sekitarnya, sehingga Khalifah Umar bin Khattab menetapkan hijrahnya kaum muhajirin dari Mekkah ke Madinnah sebagai penanggalan dalam kalender Islam,” kata Pak Amir Sutan Kayo mengomentari nama masjid yang diusulkan Zailani.

Sejak masjid itu berdiri di desanya, Zailani mendapat amanah dari warga desanya agar mengajari anak-anak usia SD mengaji. Setiap masuk waktu shalat, Zaelani selalu mengumandangkan seruan adzan. Kini masjid merupakan rumah kedua baginya.


0 Responses to “Kegaiban Jenazah Gadis Yang Salehah”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: