01
Jan
09

Arwah Penunggu Tikungan Maut

Di malam-malam tertentu sosok perempuan halus sering menampakkan diri. Dan pada keesokkan harinya telah terjadi sebuah kecelakaan yang menewaskan lebih dari tiga nyawa manusia. Bahkan banyak orang yang mengatakan, setiap kali seorang perempuan telah menampakkan diri di bawah pohon asem yang telah berumur puluhan tahun di tikungan jalan, itu tidak lain adalah sebuah tanda bahwa arwah penasaran itu menginginkan tumbal seorang manusia.

Entah sampai kapan tikungan maut itu akan menelan korban. Berbagai dukun dan orang pintar lainnya telah dipanggil agar bisa memindahkan arwah penasaran penunggu tikungan tersebut. Tapi pada kenyataannya, sekali waktu mahkluk halus itu masih saja menampakkan diri.

Hampir setahun belakangan ini, ada sekitar dua puluh tiga orang yang telah meninggal karena kecelakaan di tikungan maut itu. Tikungan itu berjarak satu kilo meter dari rumahku. Aku sengaja mengumpulkan data-data itu hanya untuk sekedar tahu berapa banyak korban selama satu tahun. Dan orang-orang yang tinggal di sekitar tikungan itu, sudah melakukan berbagai cara yang bersifat upacara ritual guna mengusir perempuan halus penunggu tikungan itu.

Ternyata hanya pada bulan-bulan pertama saja setelah upacara ritual berlangsung, korban memang agak sedikit berkurang. Dan selebihnya lagi banyak yang meninggal dengan cara mengenaskan. Kepala mereka pecah berantakan dan sekujur tubuhnya terhimpit kerangka mobil yang saling beradu akibat kecepatan yang tak bisa lagi dikendalikan.

Oh, ya. Aku masih ingat sekali akan sesuatu yang cukup aneh dan benar-benar terjadi hingga menimbulkan korban jiwa. Saat itu aku melihat seorang lelaki yang tak dikenal melintas di tikungan maut itu. Rupanya lelaki asing itu adalah seorang pemburu seks yang akan menghampiri seorang gadis cantik yang melambaikan tangan padanya. Memang, gadis misterius itu begitu mempesona sehingga lelaki bertubuh atletis dan berwajah ganteng itu segera tancap gas melintasi kendaraannya dan segera mengajak wanita bertubuh sintal masuk ke mobilnya.

Setelah berbincang-bincang sejenak, kedua insan berlainan jenis itu pun berangkat menuju ke sebuah daerah yang memang khusus menyediakan tempat mesum. Lelaki hidung belang itu memilih losmen Joget yang tidak terlalu ramai dari pengunjung. Dan disebuah kamar yang cukup nyaman. Mereka pun sudah pasti melakukan hubungan intim. Hingga beberapa hari kamar yang disewa mereka untuk bergulat memadu kasih tampak hening, tidak terdengar suara apa pun di sana.

Lama-lama pemilik kamar yang menyewakan tempat mesum itu menaruh rasa curiga. Dan ketika pintu kamar diketuk, tak ada jawaban yang keluar. Padahal itu sudah dilakukan berulangkali, hasilnya tetap saja nihil alias tak ada jawaban dari penghuni kamar. Karena rasa penasaran yang semakin tinggi, akhirnya pemilik losmen menyuruh salah seorang pegawainya untuk mendobrak pintu kamar itu dengan paksa.

Dan yang terjadi, sungguh suatu pemandangan yang sangat mengerikan. Lelaki berwajah ganteng yang terkenal doyan ngeseks itu mati dengan cara mengerikan. Matanya melotot lebar, seakan lelaki itu mati ketakutan melihat gadis yang disetubuhinya berubah wujud jadi menyeramkan. Kini tubuh lelaki malang yang berkulit putih itu sudah kaku. Dan dari hasil pemeriksaan, di perkirakan lelaki itu mati dua hari sebelumnya. Tepat sekali ketika ia membawa seorang wanita di pinggir jalan sebuah tikungan yang terkenal angker.

Aku tak tahu secara pasti, dari mana lelaki malang itu berasal. Yang pasti dia tidak pernah mengetahui kalau tikungan itu sering menimbulkan sesuatu yang penuh misteri. Aku hanya mengatakan dengan pasti, kalau yang ada didalam otak lelaki ketika itu hanya kesenangan belaka. Karena saat itu dia sudah mendapat teman kencan yang cantik dan menggairahkan. Bukan itu saja, selain wajahnya yang cantik rupawan, tingkah laku wanita misterius itu pun begitu menggoda hati lelaki petualangan cinta itu.

Malam itu, ketika aku tengah duduk santai sambil membaca koran di teras rumah, samar-samar aku mendengar suara beberapa orang di sebelah rumahku. Ya, aku mendengar beberapa orang sedang membicarakan sesuatu di rumah Pak Kyai. Pak Kyai yang bernama Muhammad Jaffar itu memang terkenal di lingkungan tempat tinggalku. Beliau memang seorang Kyai tersohor dengan ilmu keislamannya yang sangat fanatik. Bahkan Kyai Jaffar sendiri sering diundang ke tempat-tempat yang dianggap keramat. Dengan maksud agar bisa menentramkan suasana lingkungan dari godaan mahkluk halus yang jahat.

“Assalamualaikum, Pak Kyai…!” Kataku sopan. Kyai Jaffar bersamaa orang yang ada di hadapannya membalas ucapan salamku.

“Mari silakan masuk, Nak Bagas!” Kata Kyai Jaffar.

Aku melangkah dan duduk berjejer di antara mereka. Sejenak kutarik nafasku dalam-dalam, agar pikiranku menjadi lebih tenang. Dan di antara mereka yang berkumpul malam itu, akulah yang paling termuda. Memang, selama ini aku sering bertukar pikiran dengan Kyai Jaffar, sehingga kalau ada suatu kejadian di kampungku, aku bisa tahu.

“Mendengar dari pembicaraan Pak Kyai bersama Bapak-bapak yang hadir di sini, sepertinya ada sesuatu yang telah terjadi,” kataku membuka percakapan. Aku berharap dengan begitu mereka yang hadir bisa menanggapi apa yang telah kukatakan. Tapi aku tidak merasakan perbedaan walau sedikitpun. Kemudian Kyai Jaffar menganggukkan kepalanya.

“Ya. Tadi pagi, baru saja sebuah mobil sedan menabrak sebuah truk bermuatan bahan bangunan.”

“Menelan korban lagi?” Tanyaku memotong percakapan.

“Benar, Nak Bagas. Saat itu juga semua penumpang yang berada di mobil sedan itu meninggal. Dan kendaraan truk berisi bahan berat itu pun oleng ke kanan jalan dan menabrak sebuah pohon. Bahkan, nyawa sopir dan kernetnya pun tidak bisa tertolong lagi.”

Kutarik nafasku dalam-dalam. Aku turut berbela sungkawa atas musibah yang telah terjadi atas keluarga korban. Tak berapa lama, aku semakin terhanyut dengan percakapan saat itu. Sekarang sudah semakin jelas arah percakapan Kyai Jaffar bersama para warga Kampung Baru.

“Agar korban tidak makin bertambah, bagaimana langkah kita selanjutnya, Pak Kyai?” Tanyaku memberi usul.

“Aku sudah menghubungi dan menemui beberapa temanku, yaitu para Kyai agar bersatu untuk mengusir hantu perempuan penghuni tikungan maut itu. Mungkin bila saatnya tiba, kau pun akan kuberi tahu,” kata Kyai Jaffar penuh wibawa.

“Baiklah, Pak Kyai!” Ujarku, takzim.

Lama juga kami membicarakan langkah-langkah guna mencari jalan keluar hal yang sangat misterius itu. Ini tidak lain untuk menyelamatkan para pengguna jalan, agar tidak menjadi korban.

Waktu pun telah menunjukkan pukul 10 malam, tak terasa malam yang sunyi itu pun sudah semakin larut. Aku pun segera pamit mohon diri. Aku segera melangkah pulang dan mengambil air wudhu guna menunaikan sholat Isya. Memang, aku banyak belajar dari Pak Kyai tentang segala hal yang berbau agama. Tapi baru sedikit yang dapat kupelajari karena memang belum lama.

Tak terasa malam semakin larut. Mataku sudah tak kuat lagi menahan kantuk yang begitu hebat menyerang. Dan ketika aku hendak membaringkan tubuhku yang lelah, entah mengapa kedua mataku merasa sulit sekali terpejam. Padahal malam itu aku sudah berulangkali membaca ayat Kursyi. Tapi bayangan akan sesuatu yang menghantuiku itu masih saja melekat.

Namun ketika hatiku mulai merasa tenang, mataku pelan-pelan dapat terpejam. Aku terus terlena dan anganku pun terus melayang tinggi. Layar mimpipun mulai tercipta. Aku larut dalam sebuah mimpi. Di dalam mimpi itu, aku telah bertemu dengan seorang gadis berwajah cantik rupawan. Tiba-tiba saja gadis yang tidak pernah kukenal sebelumnya itu telah berdiri di depan pintu rumahku. Saat itu aku tengah duduk santai sambil nonton TV di ruang tamu. Aku segera menghampiri kedatangannya.

“Mau bertemu siapa, Dik?” Tanyaku.

Gadis itu tampak kebingungan saat menjawab pertanyaanku. Roman wajahnya yang cantik jelita terlihat penuh beban. Dan dengan sikap yang lugu, gadis yang tampak asing di mataku itu memperlihatkan sesuatu dari tangannya. Dengan segera aku meraih dan membaca tulisan yang tertera pada secarik kertas itu: “Untuk Mas Bagas. Tolong berikan tempat beristirahat kepada gadis yang telah membawa kertas ini. Gadis itu datang dari jauh dan dia tidak memiliki saudara disini.” Ternyata surat itu datang dari Pak Amir, ketua RT di kampungku.

Perlahan aku menganggukkan kepala, karena ada pernyataan yang membuatku paham. Maka, dengan sikap yang ramah aku mempersilakan gadis itu untuk masuk., “Silakan masuk, Dik!”

Dengan sikapnya yang sopan, gadis itu memasuki rumahku. Aku segera membuatkan secangkir teh hangat dan kue kering untuknya. Gadis itu pun mereguk teh buatanku sedikit. Dan tak berapa lama, aku sudah menyerahkan kamar tidurku kepada wanita berambut ikal itu untuk tempatnya beristirahat, seperti pesan yang telah tertulis di atas secarik kertas tadi. Kebetulan sekali Pak RT yang bernama Amir Hamzah itu masih ada ikatan saudara dengan orang tuaku.

Aku telah menunjuk dengan tanganku, tempat untuk gadis itu beristirahat. Dia melangkah memasuki kamarku tanpa menutup pintunya. Aku berdiri kaku. Kenapa gadis itu tidak menutup pintunya? Ah, kalau begitu biar aku yang akan menutup pintu itu.

Aku langsung menghampiri pintu dan saat akan menutupnya, gadis itu telah berdiri tepat di hadapanku dengan tubuh telanjang. Aku terperangah! Tubuhku bergetar melihat pemandangan sensasional yang sebelumnya tak pernah kulihat. Dan tiba-tiba saja, dengan sendirinya tubuhku semakin lama makin mendekatinya. Entah ada kekuatan apa yang membuat tubuhku dalam waktu sekejap sudah berada dalam pelukan gadis misterius itu.

Ketika berada di pelukan tubuhnya, makin lama aku semakin terangsang hebat. Kurasakan gelora rangsangan semakin kuat hingga gejolak nafsuku terus membumbung. Dan gadis bertubuh sintal itu pun tampak mendesah manja. Bahkan dia mulai menciumi wajahku dan aku tidak merasa kalau pakaian yang kukenakan telah melorot ke lantai. Rupanya tangan lembut gadis itu yang telah melepas seluruh pakaianku hingga tak tersisa.

Bukan itu saja, dia pun menggamit tanganku dengan mesra. Lalu, gadis cantik namun menyimpan sejuta misteri itu merebahkan tubuhnya yang molek di atas ranjang. Saat itu pandangan mataku terpaku akan keindahan tubuh yang dimilikinya. Karena terus diburu oleh nafsu, segera kuciumi wajahnya. Bukit kembarnya yang amat menantang kuremas secara perlahan. Dia menggeliat manja. Matanya terpejam, menandakan suatu ekspresi dari rasa nikmat yang dirasakannya.

Selanjutnya, aku terbenam dalam lumpur hitam kenikmatan. Hingga akhirnya aku terjaga dari mimpi nan musykil itu….

***

Aku tak mengerti akan makna mimpiku semalam. Bahkan aku tak tahu dan mengenal siapa gadis yang secara tiba-tiba telah mengajakku mendaki puncak kenikmatan. Memang, baru kali ini aku merasakan kenikmatan berhubungan intim dengan seorang wanita, meskipun itu terjadi hanya dalam mimpi. Saat itu aku terkulai lemas di sisi gadis itu.

“Aku tidak tahu, siapa kamu sebenarnya, dan di mana tempat tinggalmu, Dik? Apa maksud kedatanganmu kesini?” Tanyaku.

Dengan tubuh setengah telanjang, dia berdiri di depan pintu kamarku. Kedua matanya menatapku dengan pandangan tajam.

“Kau tidak perlu tahu siapa aku. Karena aku tinggal tidak jauh dari tempatmu. Tepatnya di tikungan jalan. Disitulah rumahku. Hi… hi… hiii…!” katanya dengan suara parau sambil tertawa cekikikan.

Semula aku hanya diam. Tapi entah apa yang telah membuatku sadar seketika apa yang telah dikatakannya. Saat itulah aku terjaga dari mimpi yang mengerikan. Aku segera membaca istigfar. Kulihat jam dinding baru menunjukkan pukul dua dinihari. Tak terdengar suara apapun. Ayah dan Ibu serta kedua adik-adikku sudah terlelap dalam tidurnya.

Aku menarik nafas panjang. Dan saat aku duduk di tepi tempat tidur, aku teringat dengan perkataan gadis dalam mimpiku itu, tempat tinggalnya berada di sebuah tikungan. Apakahb yang dimaksud olehnya adalah tikungan yang selama ini terkenal sangat angker dan maut itu? Mungkinkah wanita itu memang penghuni tikungan maut yang sering meminta korban manusia? Dan ya, ampun! Bagaimana denganku yang telah berhubungan intim dengan arwah penasaran itu.

Rasa takut menguasai jiwaku. Aku takut menjadi korban perempuan setan itu. Mungkin rasa keimanan yang berada di dalam hatiku masih lemah, sehingga aku tak kuasa menolak kejadian di alam mimpi itu. Aku semakin yakin dan menghubungkan mimpiku itu dengan perempuan halus penghuni tikungan angker.

Keesokkan harinya, aku segera menemui Kyai Jaffar. Kukatakan semuanya tanpa ragu apa yang telah kualami di dalam mimpi itu. Kulihat wajah Kyai Jaffar penuh dengan keseriusan ketika mendengar ceritaku. Bukan itu saja, aku juga mengatakan kekhawatiran-kekhawatiran yang mungkin bisa terjadi. Maka, dengan penuh harap aku meminta pada Kyai Jaffar yang sudah tersohor itu agar memberikan jalan keluar yang terbaik untukku. Aku tak mau menjadi korban wanita penasaran penghuni tikungan maut itu.

“Sekarang saya harus bagaimana, Pak Kyai?” Tanyaku dengan mengerutkan kening.

“Kini alam pikiranmu telah dikuasai oleh wanita penunggu pohon di tikungan jalan itu.”

Aku menundukkan kepala. Semua apa yang telah dikatakan Kyai itu memang benar-benar terjadi padaku.

Untunglah, beberapa hari setelah itu, tokoh-tokoh Kyai terkemuka hadir dan berkumpul di bawah sebuah pohon asem besar yang telah berumur ratusan tahun, yang terkenal angker itu. Dan pada malam-malam sebelumnya secara bersama-sama kami semua membaca Ayat-Ayat Suci Al Qur’an agar wanita penunggu pohon asem di tikungan jalan itu pergi berpindah tempat dan kembali ke alamnya, alam gaib yang tak dapat dilihat oleh mata telanjang.

Hampir setiap malam secara bergiliran, kami selalu membacakan Ayat Suci. Hingga setengah tahun lamanya, hal itu kami lakukan. Walau sesibuk apapun, aku selalu hadir menyempatkan diri untuk bersama-sama membaca Ayat Suci. Semakin lama rasa khawatir yang melekat di hatiku, makin hilang dengan keteguhan iman yang semakin mantap.

“Alhamdulilah semuanya sudah berlalu, Pak Kyai. Arwah wanita penasaran  yang menghantui mimpiku itu tidak datang lagi menampakkan diri. Wanita siluman itu hilang begitu saja!” Kataku ketika Kyai Jaffar bertanya mengenai keadaanku.

Kyai Jaffar yang berusia 57 tahun itu perlahan menganggukkan kepalanya. “Pertebal lagi keimananmu dengan selalu membaca Al-Qur’an. Dan yakinlah selalu akan kebesaran Tuhan yang tiada bandingnya. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha, dan tetap Tuhan-lah yang akan memberikan jalan terbaik untuk umat-Nya yang mau berusaha.” Perkataan Kyai Jaffar bagai air hujan menyirami bumi yang dilanda kemarau panjang selama puluhan tahun lamanya.

Hanya segelintir orang saja yang tahu secara pasti, kalau arwah penasaran penunggu tikungan maut itu sudah tak lagi menampakkan diri. Semua keinginan selain manusia yang menjadi korbannya sudah terpenuhi, mahkluk penasaran yang jahat itu diperkirakan sudah kembali ke alam asalnya. Ya, dia tenang di alam yang semestinya dia tempati.


0 Responses to “Arwah Penunggu Tikungan Maut”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: