13
Des
08

Mengantar Pulang Arwah Gadis Korban Perkosaan

Pengalaman yang dialami Sahroni, seorang tukang ojek, di daerah pinggiran kota Sukoharjo, Jawa Tengah, ini mungkin sulit dipercaya. Tapi demikianlah kenyataannya. “Pengalaman itu benar-benar sangat menyeramkan!” Tegas Sahroni.

Meski perisitiwa ini sudah lama berlalu, namun Sahroni mengaki masih sering terkenang. Kepada setiap orang dia tak segan menceritakan pengalamannya. Seperti yang dituturkan kepada Misteri beberapa waktu yang lalu. Berikut rekamannya…:

Suatu hari, penduduk di kampung tempat tinggal Sahroni gempar oleh penemuan sesosok mayat tak dikenal. Mayat itu ditemukan di parit sawah dalam keadaan sangat mengenaskan. Ya, sesosok tubuh perempuan berusia sekitar duapuluhan tahun dalam keadaan tanpa busana dan penuh luka di sekujur tubuhnya, terkapar jadi mayat di dalam parit yang berair kerut itu.

Tak ditemukan identitas apa pun pada dirinya. Warga di sekitar juga tak ada yang mengenalinya. Bahkan warga dari tempat lain yang juga melihat sosok mayat mengenaskan itu juga tak ada yang mengenalinya.

“Mungkin dia pelacur yang dibawa dari kota. Setelah disetubuhi lalu dibunuh. Pakaian, uang dan perhiasannya dipreteli. Mayatnya kemudian dibuang begitu saja. Betapa biadab si pelaku!” Komentar seorang warga ketika itu.

Tidak ada saksi mata yang melihat kejadian saat mayat itu dibuang di pinggir sawah. Maklumlah, daerah di sekitar tempat itu memang sepi. Kemungkinan mayat itu dibuang pada tengah malam.

Yang lebih mengenaskan dan memprihatinkan, korban dalam keadaan penuh luka, seolah mendapatkan kekerasan bertubi-tubi. Tubuhnya dibiarkan telanjang tanpa sehelai benangpun, mengindikasikan pelaku tak ingin jejaknya dapat terendus oleh aparat yang berwenang.

Karena tak ada seorangpun yang merasa kehilangan anggota keluarganya, maka mayat perempuan itu dikubur di pemakaman desa setempat. Salanjutnya, polisi akan menyelidiki dan mencari pelaku.

Meski sudah lewat satu minggu sejak ditemukannya mayat tak dikenal itu, pembicaraan tentang penemuan mayat itu masih terus hangat. Bahkan, belakangan malah semakin seru. Ini terjadi karena muncul cerita baru sekaitan si mayat. Konon, arwah perempuaan tak dikenal itu sering bergentayangan pada malam hari.

Memang sulit dipercaya. Namun, banyak orang yang mengaku pernah ditemui sosok berwujud perempuan memakai baju putih, atau ada juga yang menyebutnya pocongan.

Gara-gara isyu yang tak jelas dari mana juntrungannya itu, warga jadi ketakutan untuk keluar rumah malam hari. Anak-anak kampung yang suka bermain dan keluyuran di jalan tak berani lagi menampakkan dirinya. Mereka berdiam diri di rumah sejak Maghrib tiba.

Akibat keadaan tersebut,. suasana di perkampungan tempat Sahroni tinggal pun menjadi sepi. Hanya segelintir orang bernyali besar yang berani keluar pada malam hari. Itupun karena keadaan atau tuntutan profesi.

Seperti yang dilakukan oleh Sahroni. Laki-laki yang berprofesi sebagai tukang ojeg ini tidak mau terpengaruh oleh isu tentang arwah gentayangan. Dia menganggap cerita itu hanya isapan jempol saja. Apalagi selama dirinya menjadi tukang ojeg di daerah itu belum pernah bertemu atau ditemui oleh makhluk halus dan sejenisnya. Padahal acapkali dia menjalankan tugasnya pada malam hari.

Sahroni memang senang mangkal malam hari, karena tidak perlu bersaing ketat dengan teman-temannya seprofesi. Sering dia mengantar penumpang yang pulang kemalaman dari tempat kerja atau dari bepergian jauh.  Saat kembali ke pangkalan dia harus melewati persawahan, kebun, atau tempat-tempat sepi. Tapi tidak pernah sekalipun dia melihat yang namanya setan atau hantu.

Kalau begal atau tukang rampok malah pernah ditemuinya. Ya, Sahroni pernah dirampas uangnya oleh seorang laki-laki yang berpura-pura jadi penumpang.  Untung saja nyawanya tidak ikut dirampas.

Berbekal pengalaman menengangkan yang nyaris merenggut nyawanya itu, Sahorni sangat berhati-hati bila hendak mengangkut penumpang. Dia juga membekali diri dengan senjata tajam dan ilmu kebal.

Malam itu, tidak seperti biasa Sahroni merasakan badannya tidak enak. Padahal belum lama dia tiba di pangkalan. Teman-temannya menyarankan agar dia pulang saja, istirahat.

“Sudahlah, kamu pulang saja. Istirahat. Mungkin kamu kecapekan. Kalau dipaksakan, nanti malah jatuh sakit!” Cetus Sodik, menyarankan.

“Iya, kemarin kamu kan narik banyak penumpang. Kamu sampai pulang pagi. Kasihan keluargamu kalau kamu sakit!” Sambung Mardan.

Apa yang dikatakan tema-temannya benar. Kemarin dia memang bekerja hampir seharian penuh. Mungkin karena kurang istiharat, badannya jadi lemah.

Sahroni akhirnya menuruti saran mereka. Dia akan pulang dan beristirahat. “Baiklah kalau begitu, aku akan pulang dulu,” katanya seraya mengenakan helmnya dan naik ke atas sepeda motornya.

“Hati-hati!. Sebaiknya kamu lewat jalan memutar saja, jangan lewat jalan tembus,” kata Sodik menyarankan.

“Memangnya kenapa?”

“Nanti kamu ditemui sama arwah gentayangan itu! He…he…he….!” Sodik tertawa cengengesan

Sahroni terseyum kecut. Meski tidak mempercayai ucapan temannya yang bernada canda itu, tapi dia tetap memilih jalan memutar seperti disarankan Sodik. Soalnya, kalau harus lewat jalan tembus kondisi jalannya rusak, becek, dan gelap. Sahroni tak mau merepotkan dirinya sendiri. Biar gak jauh sedikit, yang penting lancar! Pikirnya.

Dia segera menstater motornya. Kendaraan itu melaju dengan pelan meninggalkan pangkalan ojek, menembus gelapnya malam. Saat melewati sebuah kawasan sepi berupa persawahan di sisi kiri dan kanan jalan, tiba-tiba Sahroni mendengar suara orang berteriak minta tolong.

“Tolooong…!?”

Badan Sahroni jadi merinding. Dia mengira itu suara hantu. Tapi dia segera menepis prasangkanya. Dia yakin, itu suara manusia. Dia pun jadi kaget ketika tiba-tiba di tengah jalan sudah berdiri seorang perempuan. Sahroni segera mengerem motornya.

Dibantu sorot lampu yang menyala, dia bisa melihat sosok seorang gadis muda dengan pakaian tampak kusut. Raut wajahnya pucat dan memelas.

“Tolong, Mas. Saya baru saja dirampok dan diperkosa. Saya…hu…hu…hu..!” Ujar gadis itu. Dia tak sanggup melanjutkan kata-katanya karena tangis yang sepertinya tak tertahankan lagi.

Untuk sesaat, Sahroni jadi bingung dan tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Melihat keadaan gadis itu yang acak-acakan dan tampak sangat menderita, maka Sahroni merasa yakin kalai apa yang dikatakan si gadis memang benar adanya. Apalagi, gadis itu berada di kawasan sepi yang memang rawan dengan tindak kejahatan. Sahroni masih ingat dengan kejadian yang menimpa dirinya saat dirampok begal beberapa waktu yang silam. Bukankah kejadiannya juga persis di tempat ini?

“Siapa yang merampok dan memperkosamu, Mbak?” Tanya Sahroni dengan suara agak gugup.

“Saya tidak tahu, Mas. Mereka ada dua orang. Saya belum lama berkenalan dengan mereka. Tadinya mereka hendak mencarikan saya pekerjaan. Tapi tidak tahunya, saya dibius dan kemudian dibawa ke tempat ini. Saya tidak sadar ketika mereka memperkosa saya dan mengambil perhiasaan serta uang milik saya. Saat saya siuman, saya sudah berada di tempat ini sendirian. Saya jadi takut, Mas. Tolong, antarkan saya pulang, Mas!”

Memelas sekali suara gadis itu. Rasanya, Sahroni tidak kuasa untuk menolak permintaannya.

“Ya, ya, Mbak. Akan saya antarkan!” Kata Sahroni. Dia lalu menambahkan, “Tapi apa tidak lebih baik Mbak saya antar ke kantor polisi dulu. Maksudnya, untuk melaporkan kejadian ini?”

“Tidak usah, Mas. Saya malu. Saya mau pulang saja!” Jawab si gadis sambil menyusut air matanya.

“Baiklah, Mbak! Tapi omong-omong, siap nama Mbak dan di mana rumah Mbak?”

“Nama saya Mira. Saya tinggal di perumahan Candisari!”

“Saya kok belum tahu tempat itu. Kira-kira sebelah mana ya, Mbak?” Tanya Sahroni dengan dahi mengkerut. Memang, tidak tahu sama sekali tempat yang disebutkan gadis yang mengaku bernama Mira itu.

“Nanti saya tunjukkan arahnya, Mas. Yang penting, tolong antarkan saya pulang. Saya tidak ingin berlama-lama berada ditempat ini. Saya takut, Mas. Keluarga saya pasti kebingungan mencari saya karena sudah cukup lama saya pergi. Ayolah, Mas! Nanti akan saya bayar Mas setelah sampai di rumah. Tolonglah, Mas. Kasihanilah saya!” Rengek Mira dengan nada memelas.

Sahroni kian trenyuh hatinya. Dia tak tega melihat penderitaan Mira. Meski badannya sedang tidak enak dan dia sangat ingin pulang, tapi rasa kemanusiaan membuatnya tak sanggup mengabaikan permintaan Mira.

Lalu, dengan nada lembut dia menyuruh gadis itu membonceng di belakang sepeda motornya. Sahroni memutar arah sepeda motornya dan melaju meninggalkannya tempat itu. Sambil diberi pengarahan oleh Mira, laki-laki itu menjalankan motornya menyusuri jalan raya.

Tapi aneh, sepanjang perjalanan Sahroni merasakan suasana gelap dan sepi di sekelilingnya. Sahroni juga tidak melihat ada bangunan atau rumah di kiri kanan jalan. Yang terlihat hanyalan jalan di hadapannya.

Yang tak kalah aneh, meski rasanya belum begitu lama mereka berangkat, tiba-tiba mereka sudah sampai di tempat tujuan.

Ya, Mira menunjuk sebuah rumah bercat kuning dan berpagar teralis di ujung jalan. Begitu Sahroni menghentikan sepeda motornya di depan rumah, Mira langsung turun dan berlari masuk ke dalam rumah itu.

Sahroni ikut turun dan melangkah menuju ke rumah. Dia merasa perlu menjelaskan pada orang tua Mira tentang apa yang terjadi pada anak gadis itu.

Sahroni mengetuk pintu. Tak berapa lama pintu dibuka. Seorang laki-laki setengah baya muncul di hadapannya.

“Maaf, apakah Bapak orangtanya Mira?” Tanya Sahroni dengan agak canggung.

“Ya, benar! Oya,  saudara siapa?” orangtua itu balik bertanya.

“Saya hanya tukang ojek, Pak! Tadi saya mengantar Mira, putri Bapak.”

Orang tua itu tampak kaget mendengar keterangan Sahroni.  Dia menatap Sahroni dengan tajam, seolah ingin membaca kesungguhannya.

“Kenapa, Pak?” Tanya Sahroni lagi dengan bingung.

“Ah, ti…tidak apa-apa. Sekarang, mana Mira-nya?” Jawab pria paruh baya itu seolah menyembunyikan sesuatu.

“Lho, tadi dia kan sudah masuk ke dalam, Pak. Lewat pintu ini. Apa Bapak tidak melihatnya?” Ujar Sahroni ganti heran, karena ayah Mira tidak tahu anaknya sudah pulang.

“Saudara jangan main-main, ya! Saya dan keluarga saya dari tadi ada di ruang depan. Kalau memang Mira sudah pulang, tentu kami melihatnya. Saudara ini sebenarnya siapa? Kok mengaku-aku kenal anak saya? Sudah sepuluh hari anak saya tidak pulang! Coba, katakan dimana sebenarnya anak saya yang bernama Mira itu?”

Sahroni jadi kaget dan bingung. Bagaimana mungkin orangtua Mira tidak tahu kalau anaknya tadi masuk ke dalam rumah lewat pintu ini.

Di saat kebingungan melanda Sahroni dan ayah Mira, saudara-saudara Mira yang lain berhamburan menghampiri mereka. Lalu, satu persatu mereka melontarkan berbagai pertanyaan tentang Mira. Namun, Sahroni malah semakin kebingungan.

Melihat Sahroni seperti orang linglung, salah seorang dari mereka berinisiatif membawanya masuk ke dalam rumah.

Setelah Sahroni terlihat tenang, barulah mereka menanyainya kembali. Mereka ingin tahu, dimana Sahroni bertemu Mira dan kenapa mengaku telah mengantar Mira ke rumah itu. Dengan jujur Sahroni menceritakan kejadian yang dialaminya beberapa waktu yang lalu. Semua yang mendengarnya tampak terkesima.

Ketika ayah Mira menanyakan dari mana asal Sahroni, laki-laki itu menyebutkan nama kampung dan daerahnya. Ayah Mira tak percaya mendengarnya.

“Itu tidak mungkin. Kampung saudara dengan kota ini sangat jauh sekali. Kalau saudara mengaku mengantar anak saya pada sekitar jam delapan malam, tentu samapi di sini pada dini hari. Sementara ini masih jam setengah sembilan malam!” Tegasnya.

“Memangnya ini daerah mana, Pak?” Tanya Sahroni masih dalam kebingungan.

“Ini di Semarang!”

“Apa? Di Semarang?” Sahroni melongo. Wajahnya langsung pucat pasi. Dia tampak sangat shock. Karena tak kuat menahan guncangan dalam batinnya, dia kemudian jatuh pingsan.

Setelah siuman, Sahroni baru sadar apa yang terjadi. Mira yang diantarnya ternyata bukan manusia biasa. Dia adalah jelmaan makhluk halus. Setelah diselidiki dan dicocokkan dengan penemuan mayat tak dikenal di kampungnya, ternyata dia tak lain dan tak bukan adalah Mira. Hal ini terbukti dari data yang ada di kepolisian. Ciri-ciri fisik dan tanda lahir dari mayat tak dikenal itu sama dengan Mira. Tapi untuk lebih menegaskan, dilakukan otopsi ulang. Dan ternyata semua itu memang benar.

Bagi keluarga Mira, peristiwa ini memberi kelegaan tersendiri. Karena Mira telah dibakarkan hilang selama beberapa hari, akhirnya bisa kembali ditemukan, meskipun dalam keadaan sudah tak bernyawa.

Sementara bagi Sahroni, kejadian ini merupakan pengalaman yang sangat luar biasa dan tak akan pernah dilupakan sepanjang hidupnya. Dia kini yakin bahwa makhluk dari dunia lain itu ada. Namun dia menyadari bahwa semua itu tak akan terjadi tanpa kehendak Allah SWT.


0 Responses to “Mengantar Pulang Arwah Gadis Korban Perkosaan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: