13
Des
08

Didatangi Arwah Korban Kecelakaan

Dalam keadaan serba kekurangan, terlebih bila kadar iman tipis, maka akan dengan mudah menjerumuskan seseorang pada perbuatan nista. Setidaknya, kenyataan itulah yang menjadi latar belakang dari kisah yang dialami oleh Arpan ini. Kalau saja hidupnya berkecukupan, pastilah dia tidak akan nekad mencuri sesuatu yang bukan miliknya. Apalagi mencuri barang milik seseorang yang telah terbujur kaku menjadi mayat.

“Sebaiknya kau kembalikan saja uang dan perhiasan itu, Pan. Itu perbuatan yang dilarang agama. Karena itu, berarti kua telah menjarah harta milik orang lain!” begitulah Giono menasehati Arpan.

“Kamu jangan sok alim, Sobat. Apalagi gadis itu sudah mati. Pada siapa aku harus mengembalikan uang dan perhiasan ini, sedangkan alamatnya saja aku tidak tahu. Anggap saja ini memang sudah jadi rezekiku,” jawab Arpan, seenaknya.

Dialog kedua sahabat karib tersebut berlangsung sekitar sebulan yang lalu. Ketika itu, dengan wajah berseri-seri, Arpan menemui Giono di tempat kostnya. Dia menceritakan bahwa dirinya baru saja memperoleh rezeki nomplok.

“Kau lihat apa yang kuperoleh hari ini! Uang dan perhiasan. Aku kira ini lebih dari cukup untuk membayar uang semesterku,” cetus Arpan dengan bersemangat.

“Hai, dari mana kau bisa mendapatkan semua ini?” tanya Giono sambil menatap karibnya itu.

Di antara keduanya memang hampir tak ada rahasia. Karena itulah, tanpa tedeng aling-aling Arpan menceritakan bahwa dirinya baru saja mengambil uang dan perhiasan milik seorang gadis yang mati akibat jadi korban tabrak lari.

“Gila! Jadi bukannya kau tolong gadis itu malah kau ambil uang dan perhiasannya,” sesal Giono.

“Semula aku bermaksud menolongnya. Tapi aku bingung nggak tahu harus berbuat apa.”

“Lantas, mengapa kau ambil barang-barang berharga miliknya, termasuk uang itu?” tuding Giono.

Arpan berusaha menekan perasaannya. Dia berkata sambil menatap sahabatnya, “Kau tahu kan aku sedang keculitan uang untuk bayar uang semester? Makanya aku terpaksa mengambil semua ini, sebab kalau tidak kuliahku pasti bakal berantakan. Lagi pula, gadis itu kan sudah mati. Kalau bukan aku yang mengambilnya, mungkin juga ada orang lain yang akan mengambilnya. Jadi, anggap saja ini cara Tuhan  memberikan rezekiNya padaku.”

Giono cuma bisa geleng-geleng kepala, sambil bergumam, “Semoga saja apa yang kau pikirkan itu benar. Tapi, aku yakin akan ada sesuatu yang terjadi denganmu.

Keyakinan Giono itu memang benar. Sebulan setelah kejadian itu, kehidupan Arpan mulai tidak tenang. Tapia pa daya, penyesalan itu selalu datang di kemudian hari.

Arpan sungguh tidak menyangka kalau perbuatannya itu akan menyusahkan dirinya. Berikut ini kisah yang dituturkannya pada Misteri…:

Sabtu, 6 Januari 2004. Sore itu, hujan turun sangat deras mengguyur kota Bandar Lampung. Karena ingin cepat-cepat pulang ke tempat kostnya, tanpa menghiraukan curah hujan yang tak bersahabat itu, Arpan nekad memacu sepeda motornya menembus hujan. Tak peduli pada resiko yang akan terjadi, dia memacu kendaraan itu dengan kecepatan tinggi. Barulah ketika membelok ke Jalan Perintis, dia sengaja memperlambat laju kendaraannya. Dia hafal betul keadaan jalan itu yang rusak berat penuh lubang.

Ketika sampai di ujung jalan yang membelok ke sebelah kiri dan menembus Jalan Pramuka, tiba-tiba dia melihat sosok tubuh tergeletak di tengah jalan. Arpan segera menghentikan sepeda motor kesayangannya. Dia memarkirnya di pinggir jalan, lalu bergegas menghampiri sosok yang terkapar dengan bersimbah darah itu.

“Astaga, kasihan sekali gadis ini. Dia pasti jadi korban tabrak lari!” Pikir Arpan, cemas.

Sejenak dia menoleh ke kiri dan kanan, melihat kalau ada orang di sekitar tempat itu. Sepi. Karena jalan itu memang jalan alternatif, maka jarang sekali ada orang yang mau lewat di situ kalau tidak terpaksa. Apalagi saat menjelang Magrib, ditambah hujan turun deras pula. Daerah di sekitarnya juga sepi karena jauh dari pemukiman penduduk.

Karena melihat tidak ada orang yang dapat dimintai pertolongan, Arpan segera bertindak sendiri. Didekatinya sosok yang berlumuran darah itu. Sosok itu, ternyata seorang gadis berusia sekitar 20 tahunan. Si gadis malang mengenakan jean dan T Shirt kuning muda.

Perlahan Arpan menyentuh tubuh gadis itu, tetapi tidak ada reaksi. Arpan coba mengguncang tubuh gadis itu, tetapi tidak bergerak. Rupanya gadis itu sudah tidak bernyawa lagi.

Arpan jadi kebingungan, tidak tahu apa yang mesti dia perbuat. Dalam keadaan bingung itulah tiba-tiba matanya tertumbuk pada sebuah tas tangan yang tergeletak apa adanya, dan tertindih lengan gadis malang itu. Arpan segera mengambil tas itu dan membukanya. Astaga! Ternyata di dalam tas itu berisi sejumlah uang dan perhiasan.

Saat itu, entah iblis dari mana yang datang merasuki hati pemuda lajang itu hingga naluri kemanusiaannya tiba-tiba hilang musnah. Sementara, sang iblis sangat kuat berbisik di telinganya, menyuruh dirinya mengambil uang dan perhiasan milik gadis itu.

“Ya, aku kan sedang butuh uang untuk bayar semester!” Bisik batin Arpan, merasa mendapatkan peluang

Ternyata bujukan iblis itu berhasil. Cepat Arpan merogoh isi tas itu. Setelah mengantongi uang dan perhiasan milik gadis itu, lalu dibuangnya tas itu ke semak-semak yang tak jauh dari tempat kecelakaan. Tanpa menaruh rasa iba walau sedikitpun, kemudian ditinggalkannya sosok mayat malang itu. Dan dia pun secepat kilat memacu kembali sepeda motornya untuk meninggalkan tempat itu.

Dan malam harinya, di kamar kosnya, dengan hati berbunga-bunga, Arpan menghitung hasil jarahannya. Lumayan juga jumlahnya. Uang tunai sebesar dua juta rupiah, sebentuk cincin kawin, dan seuntai kalung emas kini jadi miliknya.

Iblis memang makhluk yang senang menjerumuskan manusia. Apalagi jika manusia itu lemah imannya. Begitulah yang dialami Arpan. Dia memang seorang yang tidak pernah beribadah. Maka dengan mudahnya dia termakan bujuk rayu sang iblis durjana itu, apalagi di saat yang sama pemuda ini memang tengah dirundung masalah keuangan.

Uang hasil jarahannya itu tak hanya dia gunakan utnuk membayar semester, tapi juga dipergunakannya untuk berfoya-foya. Kini hampir setiap malam dia mengunjungi diskotik yang ada di sepanjang Jalan Yos Sudarso. Setelah menghabiskan minumannya, lalu dilanjutkan dengan berkencan dengan gadis malam yang biasa menunggu sasarannya di tempat itu.

Kini Arpan benar-benar telah jadi pengikut iblis. Bayangkan, dia sekarang sudah bergemilang maksiat. Minuman keras dan berzinah. Tak pernah dihiraukannya kata-kata yang pernah diucapkan Giono, sahabat dekatnya itu. Padahal, sudah berulangkali Giono menasehati agar berhati-hati dengan uang itu. Malahan, Giono meminta agar Arpan mengembalikan uang itu. Tetapi, apa jawaban Arpan?

“Kamu ini jangan munafik dan sok jujur, No. Pemilik uang ini sudah mati. Mayat gadis itu pasti sudah dikubur keluarganya. Lantas kemana aku harus mengembalikannya. Masak aku harus mengembalikannya ke lobang kubur? Kamu hila kali, ya!”

“Astaqhfirrullah!” Giono sempat terkejut mendengar jawaban temannya itu. “Setan mana yang telah meracuni hati anak ini?” Ucap Giono dalam hati. Dia sama sekali tidak menyangka, kalau Arpan yang selama ini dikenalnya sebagai orang yang santun dan pendiam, bisa berkata seperti itu.

“Kita kan bisa menghubungi rumah sakit ata kantor polisi terdekat. Dari mereka kita bisa mengetahui asal usul gadis itu,” saran Giono, tak mau menyerah.

Sejenak Arpan terdiam. Ucapan sobatnya itu ada benarnya. Tetapi, Arpan enggan melakukannya. Dia tak sadar bahwa Iblis benar-benar telah menguasai dirinya. Keserakahan dan ketamakan telah bertahta di hatinya.

“Pokoknya, aku tidak akan mengembalikan uang itu. Uang itu adalah rezeki yang diberikan Tuhan padaku. Lagi pula, waktu itu tidak ada orang yang melihat aku ketika aku mengambilnya. Seandainya tidak kuambil, pasti ada orang lain yang mengambilnya!” tandas Arpan.

“Betul katamu, orang lain memang tidak melihat kau mengambil uang itu. Tetapi, arwah gadis itu pasti melihatmu. Ingat, suatu saat, dia pasti datang padamu!” balas Giono.

Merinding juga bulu kuduk Arpan mendengar ucapan sahabatnya itu. Tetapi semuanya itu sudah kepalang baginya. Ibarat nasi sudah menjadi bubur. Nuraninya telah tertutup.

“Kau ini ada-ada saja. Mana ada oarng yang sudah mati bisa hidup lagi. Kamu kira ini cerita film?”

Sebenarnya jengkel juga Giono mendengar jawaban sahabatnya itu. Tetapi perasaannya itu dipendamnya dalam hati. “Harta memang sering membuat orang jadi lupa daratan,” ucapnya dalam hati.

Ya, apa boleh buat. Arpan memang sedang lupa daratan. Buktinya, dia semakin asyik dengan dunianya. Dengan uang yang sesungguhnya tidak seberapa jumlahnya itu, dia rela menceburkan dirinya ke lembah yang hina. Dia tidak tahu, kalau uang yang tidak seberapa itu akan habis dalam waktu sekejap.

Celakanya, karena sudah ketagihan sedangkan uang sudah tidak punya uang lagi, maka dia nekad dijualnya cincin dan kalung hasil jarahannya. Padahal, yang selama ini dia selalu menyimpan benda berharga itu baik, sebab ada sedikit niat di hatinya untuk mengembalikan benda tersebut kepada yang berhak.

Uang hasil penjualan perhiasan itu dia gunakan untuk berfoya-foya. Dan setelah uang itu habis, maka datanglah petaka itu….

Malam itu, Arpan bermimpi buruk. Karena mimpinya, tepat tengah malam dia terbangun. Badannya terserang demam mendadak. Butir-butir keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Apa yang terjadi?

Malam itu, Arpan mimpi di datangi oleh si gadis korban kecelakaan. Bahkan, pada malam-malam berikutnya mimpi-mimpi itu selalu datang menterornya.

Karena menderita tekanan batin yang amat dahsyat, lambat laun tubuhnya  jadi kurus kering. Anehnya, sejauh ini Arpan tetap bertahan. Dia tidak mau menceritakan pengalamannya itu pada orang lain. Termasuk Giono, sahabat karibnya.

Sampai akhirnya tiba pada suatu malam yang merupakan puncak dari mimpi buruk itu. Gadis itu tidak muncul lagi di alam maya, tetapi dia datang dalam kenyataan.

Ya, pasti tengah malam itu Arpan menjerit histeris, ketika membuka pintu kamarnya ternyata dilihatnya sosok gadis itu sedang berbaring dia ranjang usang miliknya. Reflek Arpan hendak berlari. Tetapi suara lembut menegurnya.

“Arpan, jangan takut. Kau tidak perlu menghindariku, karena aku sama sekali tidak bermaksud menyakitimu!” ucap gadis itu.

Arpan membalikan badannya. Walau semula dia sangat ketakutan, namun anehnya keberaniannya tiba-tiba kembali muncul.

“Apa maksudmu? Bukankah kau ini sudah mati?” tanyanya

Gadis itu tersenyum. “Ya. Aku memang sudah mati. Tetapi, arwahku masih penasaran karena perbuatanmu. Kau telah mengambil semua milikku….”

Arpan bergidik. Tiba-tiba dia teringat pada kata-kata yang pernah diucapkan oleh Giono tempo hari. Ya, Giono pernah berkata, bahwa suatu saat arwah gadis itu akan datang padanya. Kiranya ucapan Giono itu menjadi kenyataan. Kini arwah gadis itu sudah berdiri di depannya.

“Dengar Arpan. Aku tahu kau sudah menghabiskan semuanya. Tetapi, bagaimanapun kau harus mengembalikan padaku. Cincin dan kalung itu bukan miliku, tetapi milik kekasihku yang diberikannya padaku sebagai tanda pengikat. Perhiasan itu sangat berarti bagiku, juga bagi kekasihku. Tolonglah kembalikan.” Gadis berkata setengah menghiba pada Arpan yang  berdiri mematung dengan lutut gemetaran.

“Ta…Tapi. Aku sudah…sudah menjualnya pada orang lain,” jawab Arpan terbata-bata.

“Perhiasan itu milikku, kau tidak berhak menjualnya! Ingat, bagaimana pun caranya kau harus mengembalikanya padaku!” ancam gadis itu sambil menyeringai. Wajahnya yang cantik itu berubah jadi menyeramkan. Arpan bergidik. Dia merasa takut sekali.

“Ba…baiklah, aku akan mengembalikannya!” jawabnya dengan bibir yang kelu..

Sosok gadis itu tiba-tiba lenyap. Berganti dengan bau harum bunga kamboja. Cepat Arpan mengunci pintu kamarnya. Dalam keadaan panik, tiba-tiba dia kembali teringat pada Giono.

Keesokan harinya, Arpan segera menemui Giono di tempat kostnya. Mereka memang sama-sama mahasiswa di sebuah perguruan tinggi negeri di Lampung. Kepada Giono, Arpan menceritakan apa yang telah dialaminya selama ini. Juga peristiwa yang terjadi malam tadi.

Singkat cerita, berkat bantuan Giono, akhirnya Arpan dapat mengetahui identitas gadis itu. Selah menjual sepeda motor kesayangannya, yang merupakan harta satu-satunya itu, Arpan menebus kembali perhiasan yang telah dijualnya.

Di hadapan keluarga almarhum, Arpan berterus terang mengakui perbuatannya. Setelah meminta maaf, dia pun mengembalikan uang dan perhiasan yang telah dijarahnya.

Aneh, setelah Arpan melakukan itu, arwah gadis itu tidak pernah muncul lagi. Bahkan dalam mimpinya sekalipun.

Meskipun peristiwa itu sudah lama terjadi, tetapi mengaku Arpan tidak pernah bisa melupakannya. Baginya, peristiwa tersebut merupakan pelajaran berharga, yang sekaligus telah membuatnya menjadi insan yang taat dalam beribadah.

Semoga kita semua bisa memetik pelajaran dari kesaksian Arpan ini.


0 Responses to “Didatangi Arwah Korban Kecelakaan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: