13
Des
08

Arwah Gadis Bunuh Diri Gentayangan

Kisah mistis yang bersumber dari kawasan Taman Budaya yang letaknya di sebelah Timur Kota Medan itu memang bukan isapan jempol semata. Hantu perempuan berpakaian putih yang cukup menyeramkan itu ternyata memang benar adanya. Konon, sosok hantu itu merupakan jelmaan arwah penasaran seorang gadis yang mati gantung diri. Perempuan itu bernama Nio, anak seorang pedagang ikan asin di pusat pasar Medan.

Kabarnya, Nio nekad menggantung dirinya dikarenakan dia dilarang Papanya berpacaran dengan pemuda kampung yang bekerja di kedai ikan asin milik orang tuanya itu. Pemuda itu bernama Abdul Rajak. Nio mencintai Rajak dengan sepenuh jiwanya. Dia rela menukar keyakinannya demi cintanya kepada Rajak, si anak muda miskin yang makan gaji dari Papanya.

“ Jangan menukar agamamu hanya karena kau ingin menikah denganku,” ujar Rajak pada Nio satu hari ketika mereka sama-sama berada di kedia ikan asin.

“Tapi aku suka sama kamu, Rajak. Kita harus menikah, kita harus hidup bersama,” bisik Nio mesra dari balik keranjang ikan asin yang isinya tinggal setengah lagi.

“Tapi, aku tidak ingin kau kena marah besar dar Papamu!”

Mendengar ini, seketika wajah Nio bersemu  merah. Bau ikan asin yang dapat membuat nafas berhenti, tidak lagi diperdulikannya.

“Ingatlah, Nio! Jangan pindah agama karena mau menikah sama aku,” ujar Rajak mengingatkan.

“ Rajak, mengapa kami bilang begitu terys? “ Tanya Nio sedih.

“ Kalau Papa Nio tahu, aku pasti kena pecat dan Nio pasti tidak diperbolehkan lagi menemui aku di kedai ini, “ bisik Rajak sambil meremas jemari tangan Nio dari balik keranjang ikan asin.

Malangnya, aksi Rajak dan Nio ini dilihat oleh A Seng, sepupu Nio. Apa yang dilihatnya kemudian dilaporkan A Seng kepada Papa Nio.

“ Apa? Lajak pegang tangan Nio? Haiya, ini kelja titak wetul. Lajak…Lajak! Sini lu!“ Teriak Papa Nio yang Cina totok itu dengan berang.

Rajak pucat. Nio juga pucat. Satu tamparan ke pipi Rajak yang cukup keras membuat Nio menjerit sekuat-kuatnya. Nio melompati keranjang ikan asin dan melindungi Rajak dari amukan Papanya.

“ Nio! Apa-apa an ini ?“ Bentak sang Papa

“ Papa yang apa-apaan? Kenapa Rajak Papa pukul? Apa salahnya ?“ Teriak gadis bermata sipit itu membela kekasihnya.

Bibir Rajak berdarah. Nio menyeka darah di bibir Rajak dengan sapu tangan sutranya. Melihat itu, kemarahan Papanya semakin tak terbendung. Kali ini kemarahan sang Papa dia lempiaskan kepada putri cantiknya sendiri. Lelaki lima puluhan tahun ini bagai orang yang kesetanan. Nio dia seret masuk ke dalam kamar, lalu menguncinya di dalam. Nio menjerit-jerit minta dikeluarkan.

“ Papa…Papa! Buka pintunya! Buka! Kalau Papa tidak buka, aku akan bunuh diri!“ Teriak Nio sambil memukul-mukul daun pintu dari dalam. Sang Papa diam saja. Kemarahan, sekaligus kekecewaan sudah melampau batas. Bahkan, Mama Nio yang coba-coba membujuk suaminya dengan menangis, juga tidak diperdulikan oleh Papa Nio.

“Sudah bialkan saja. Nanti dia akan sadal sendili!” Kata lelaki itu. Dia sama sekali tidak percaya anak gadisnya itu akan berani melakukan tindakan bodoh berupa bunuh diri.

“Kenapa Papa begitu kejam?  Nio bukan anak-anak lagi. Jangan Papa halangi Nio memilih jodohnyua,” ujar sang Mama. Wajah Papa memerah begitu mendengar kata-kata ini.

“Haiya, owe tidak halangi dia. Yang owe tidak suka, jangan pacalan sama Lajak! Nio sudah owe jodohkan sama anak si A Tut tukang timbangan. Bukan sama si Lajak!“ Tandas Papa Nio yang hampir lepas kendali. Marah Papa bagaikan kobaran api yang di siram dengan minyak lampu.

Malamnya, Mama Nio hendak mengantar makanan ke kamar dimana Nio di kurung,. Ketika daun pintu terbuka perlahan, seketika perempuan ini terpekik dengan keras. Dia pun menjerit-jerit sambil menunjuk-nunjuk ke kamar dimana Nio disekap. Sungguh rak pernah dinyana, Nio ternyata benar-benar menggantung dirinya di belakang pintu kamar dengan setagen.

Seketika itu keadaan di rumah keluarga keturunan Cina itu menjadi riuh dilanda tangis dan kepanikan. Papa Nio adalah orang yang paling terpukul melihat kejadian ini….

***

Nio mati menggantung dirinya. Mendengar kabar Nio mati menggantung diri, Rajak yang sudah dipecat oleh majikannya sangat terpukul sekali. Tapi untuk datang melayat, Rajak tak punya nyali untuk berkunjung ke rumah duka.

Sehari kemudian, Rajak hanya bisa memperhatikan dari jauh upacara penguburan kekasihnya yang dilangsungkan dengan prosesi amat sederhana.  Tak terasa Rajak pun menangis. Dalam hatinya dia  berjanji akan setia menziarahi kuburan Nio setiap kali dia ada waktu.

Rajak memang membuktikan janjinya. Selama dua minggu berturut-turut hampir tiap hari dia mendatangi pusara Nio. Rajak menabur bunga cinta di sekitar kuburan Nio. Bahkan, Rajak tidak memperdulikan dirinya. Siang dan malam dia terus berada di kuburan Nio. Tidak perduli panas atau hujan, Rajak bahkan sampai lupa makan.

Setelah dua minggu terus menerus berada di kuburan Nio, akhirnya Rajak tidak tahan. Maut datang menghampirinya. Rajak mati sambil memeluk erat onggokan batu nisan kuburan Nio dengan ke dua tangannya yang sangat kurus sekali.

Kabarnya, Mayat Rajak hingga membusuk karena tak seorang pun yang tahu bahwa anak muda ini mengakhiri hidupnya di atas kuburan Nio, kekasihnya. Maklum saja, karena Nio mati menggantung diri, kuburan Nio memang tak pernah dirawat oleh Papanya. Kuburan itu dibiarkan ditumbuhi semak ilalang. Bahkan kabarnya, nama Nio memang telah dicuci habis dari deretan nama-nama anak sang Papa yang pernah dilahirkan isterinya.

Maka karena itulah santer terdengar kisah mistis bahwa dari kuburan Cina di Jalan Jati, yang kini di atasnya berdiri bangunan pusat kesenian Taman Budaya itu, arwah Nio dan arwah Rajak selalu gentayangan. Sepasang arwah itu terlihat sewaktu-waktu di bawah pentas Gedung Utama Taman Budaya Medan. Kini nama Jalan Jati sendiri telah diganti dengan nama baru, yaitu Jalan Perintis Kemerdekaan.

Kisah berikut ini pun terjadi….

Petang itu, Wahidin sedang menunggui pekerja bangunan menggali areal yang akan digunakan untuk pondasi. Galian belum begitu dalam saat pacul Narto yang ditugaskan mengorek tanah terbentur benda keras. Begitu tanah disibakkan dengan tangan, ternyata pacul Narto beradu dengan tempayan yang tutupnya pecah terkena hantaman cangkul miliknya.

“ Harta karun! “ Teriak Wahidin gembira.

“ Bubukan, Bang. Ini pasti tempayan tempat menyimpan tulang belulang orang mati,” bisik Narto. Dengan hari ini, Narto memang sudah dua kali menemukan tempayan tempat menyimpan tengkorak  orang mati.

“ Tengkorak? Coba tengok, Mas!” Ujar Wahidin sambil turun ke dalam lubang. Wahidin merogohkan tangannya ke dalam tempayan.

“ Jangan, Mas…!” Larang Narto, setengah ketakutan.

“ Kau ini penakut sekali! Tengkorak mana bisa bergerak! Tengok, kepalanya ini diam saja begitu aku ambil. Kasihan yang empunya kepala ini. Cuma dagunya saja yang bisa bergerak. Coba kalian tengok. Bergerakkan? “ Canda Wahidin sambil membuka dan mengkatupkan dagu tengkorak yang giginya masih lengkap. Nerto bergidik ngeri. Mulutnya komat-kamit minta ampunan agar jangan kualat gara-gara ulah Wahidin yang usil.

“Bang, jangan dimain-mainkan, begitu. Kasihan! Wujudnya sekarang memang tengkorak, tapi arwahnya masih utuh, dan mungkin saja sedang memperhatikan kita,” beri tahu Narto. Dia meminta agar tengkorak itu dikembalikan ke dalam tempayan.

“ Bodoh kali kau ini! Tengkorak ini mana lagi bisa bergerak! Tapi dagunya ini bisa digerakkan. Lihat!” Canda Wahidin lagi sambil mendekatkan tengkorak yang dagunya dapat dilepas itu mangap-mangap mendekati Narto.

Narto menjerit dan lari ketakutan. Nano dan Totok juga lari terbirit-birit melihat ulah Wahidin. Hanya, Wahidin tertawa geli melihat ulah teman-temannya. Malahan, Wahidin terus membuka dan mangatupkan dagu yang masih memiliki gigi yang utuhitu sambil tersenyum-senyum sendiri. Setelah puas, dia baru mengembalikan kepala yang sudah menjadi tengkorak itu ke dalam tempayan. Gilanya, dagu si tengkorak yang masih berisi barisan gigi yang utuh itu diam-diam dia bawa pulang. Sesampainya di rumah, dagu yang berisi gigi itu dia pernis sampai mengkilat lalu dia letakkan di dalam buffet sebagai hiasan.

Apa yang terjadi kemudian, malamnya, Nano, Totok, Narto dan Wahidin di datangi dagu yang berisi gigi. Dagu itu seperti menggelantung di depan tempat tidur mereka. Tak berapa lama kemudian, dagu itu menyatu dengan kepala tengkorak yang telah rusuk, tangan, kaki dan secara perlahan, tengkorak itu dibalut kain putih lusuh dan ruangan kamar mereka terasa sangat bau sekali.

Totok yang paling penakut tak lagi mampu menjerit. Biji matanya seperti hendak keluar. Suara jeritannya tertahan di tenggorokannya begitu melihat hidung hantu yang menjelma di hadapannya itu membesar seperti jantung pisang. Hidung itu  mengeluarkan bau bangkai yang sangat bau sekali. Totok terkencing-kencing di atas tempat tidur saking takutnya.

Apa yang dialami Totok, itu juga yang dialami Nano, Narto dan Wahidin sebagai si pembuat ulah. Mumi berhidung besar yang seluruh tubuhnya dibalut kain pita panjang yang lapuk itu memancarkan cahaya merah panas dari ke dua lubang matanya yang tak memiliki biji mata. Wahidin hendak menjerit. Tapi suaranya tercekat di kerongkongannya. Begitu juga Nano dan Narto. Mereka tak mampu mengeluarkan suara begitu melihat zombie berhidung besar dengan mata menyala itu berdiri tegak di depan tempat tidur mereka.

Seketika, ruangan kamar mereka menjadi bau bangke yang sangat busuk sekali. Wahidin turun dari tempat tidur reotnya dan menghindar dari sosok mumi yang baunya minta ampun itu. Sementara Nano, Totok dan Narto tak mampu bergerak. Begitu hantu berhidung besar bagai jantung pisang itu menghilang, mereka langsung pingsan, tak sadarkan diri.

Tapi tidak dengan Wahidin, yang memang pemberani.  Dengan sisa-sisa tenaganya dia lari ke arah buffet dan mengambil dagu tengkorak yang sudah di pernisnya. Dagu yang bergigi utuh itu dia berikan kepada hantu yang memiliki hidung besar itu.

“ Ambil…Ambil…Ambil ini!” Ujar Wahidin dengan gemetar.

Hantu berhidung jantung pisang yang terus mengeluarkan cairan busuk dari hidungnya itu, memeluk tubuh Wahidin sekuat-kuatnya. Wahidin tak bisa bernafas. Tapi tangannya masih terus memegang dagu tengkorak yang telah dipernisnya kuat-kuat.

“Ampuuun…!”Suara Wahidin seakan tak dapat keluar dari mulutnya. Biji matanya mendelik. Dan, Wahidin pun jatuh pingsan…

***

Aku (Penulis) sama sekali tidak mengetahui kejadian yang dialami oleh Wahidin dan ketiga kawannya. Yang pasti, pagi hari sekitar pukul sembilan setelah pada malam harinya Wahidin Cs. mengalami teror tersebut, aku sudah sampai di Taman Budaya. Di samping kanan gedung utama, tepatnya di sebelah selatan gedung, aku melihat sepertinya sedang ada upacara. Ya, seorang laki-laki, persisnya seorang Suhu yang berpakaian jubah kuning sedang memimpin upacara penanaman kembali tiga buah guci yang berisi tengkorak manusia.

Suhu yang memakai jubah kuning tersebut memang lonceng kecil di tangan kirinya. Sementara itu segenggam hio diayun-ayunkan di tangan kanannya, seraya membaca mantera-mantera dalam bahasa leluhurnya yang tak aku pahami artinya.

Asap hiu beterbangan ke udara menebarkan wangi harum kayu cendana. Aku mengikuti upacara itu dengan takzim, sampai-sampai aku tak sadar kalau di samping kiriku sudah berdiri tegak seorang amoi cantik dengan rambut terurari panjang. Dia tersenyum kepadaku. Akupun tersenyum kepadanya.

Begitu aku hendak menanyakan sesuatu kepada amoi cantik yang tegak di sebelahku itu, dia memberi isyarat agar aku jangan bersuara. Aku menganggukkan kepalaku tanda setuju. Dia kembali tersenyum. Matanya menatapku dengan sayu. Dia sepertinya hendak menangis karena sangat sedih sekali.

Melihat amoi cantik itu seperti hendak menangis, aku memalingkan wajahku ke arah suhu yang terus menebar-nebarkan asab hio ke atas guci yang hendak ditanamkan kembali. Keanehan seketika menyergapku. Begitu aku melihat berkeliling, tak seoranmg pun yang kukenal. Semuanya bermata sipit. Aku juga melihat ada banyak gadis yang cantik-cantik tapi berwajah pucat seakan tak berdarah.

Aku tertegak kaku begitu aku lihat Suhu datang menghampiriku. Dia menarik tanganku. Aku diajaknya mengelilingi guci yang hendak dikembalikan ke dalam lubang. Aku tak kuasa menolak ajakan ini. Aku ikut berjalan perlahan sambil mengikuti irama lonceng.

Di belakangku, amoi cantik yang wajahnya pucat sakan tak berdarah dan diikuti yang lainnya ikut berjalan perlahan mengelilingi guci. Suhu terus memegangi tangan kananku. Aku dan suhu diikuti jemaah yang semakin ramai di  belakang terus berjalan-dan berjalan tanpa henti. Aku tak tahu orang-orang yang banyak di belakangku itu entah hendak menuju kemana. Yang aku lihat, aku berada di atas jalan hitam yang panjang. Sebuah gurun pasir yang terbentang luas ada di hadapanku. Aku terpesona melihat pemandangan alam yang tak pernah aku lihat sebelumnya.  Aku benar-benar tak sadar melihat apa yang telah terjadi pada diriku. Aku terkulai. Kedua kaki yang menyangga tubuhku sudah tak sanggup menopang badanku yang kurus. Aku terduduk lemas di tengah jalan yang penuh dengan debu yang beterbangan.

Pegangan tangan Suhu perlahan merenggang. Aku terkulai dan akhirnya jatuh lemas. Selebihnya, aku tahu apa yang telah terjadi pada diriku….

Aku terbangun karena ada sosok yang tak aku kenal menguncang-guncang tubuhku. Wajahnya tak begitu jelas. Tapi dari sentuhannya yang lembut aku tahu yang membangunkanku adalah seorang perempuan. Begitu aku bangkit, sosok perempuan yang membangunkanku itu sirna. Tuhan! Aku masih berada di atas pentas gedung utama Taman Budaya. Aku belum menyelesaikan set dekor yang dipercayakan sutradara kepadaku. Sementara di bawah pentas, di ruang rias, aku mendengar suara-suara yang sangat ramai sekali. Aku mendengar suara Kunung, Nani dan Varah yang tengah bernyanyi. Ternyata di ruang bawah telah ramai dengan kawan-kawanku yang malam ini akan menunjukkan kemampuan aktingnya di atas panggung. Masih dalam suasana bingung dan ngeri. Ardi muncul membawa boneka berhidung besar yang akan kami pergunakan sebagai property dalam pagelaran nanti malam.

“ Untung saja panas, Bang! Kalau tidak hidungnya yang besar ini tak kering, “ ujar Ardi sambil memperlihatkan boneka kertas yang dirancang oleh Ardi. Aku terhenyak kaku.

“Bagus…Bagus…!” uUcapku sambil mundur ke belakang. Aku tidak melihat boneka kertas yang hidungnya besar, tapi aku melihat sosok perempuan cantik bermata sipit yang menatapku dengan tatapan mata sendu penuh harap. Perempuan itu tegak di hadapanku bersama Ardi yang tersenyum puas dengan hasil kerjanya. Tapi? Kemana semua upacara? Kemana Suhu, amoi cantik dan orang-orang yang ikut mengeliling guci berisi tengkorak? Kenapa aku sekarang ini ada di atas pentas dan tertidur? Tapi suara-suara di bawah sana? Benarkah itu suara Nani, Varah, dan Tatik dan suara sutradara kami yangs sedang mengarahkan para pemain?

Biji mataku mendelik besar. Aku lihat Ardi menyeringai. Matanya tiba-tiba jadi seperti memncarkan api yang panas ke tubuhku. Ada apa ini ? Ardi menghilang. Tiba-tiba aku kembali sendiri di atas pentas. Tidak ada suara-suara. Tidak ada Ardi dan tidak ada sosok perempuan yang bermata sipit dan berwajah pucat pasi di dekatku. Apakah semua kawan-kawanku telah menjadi hantu?

Sekali lagi aku jatuh pingsan. Dan ketika sadar ada Wahidin bersamaku, juga kawan-kawan yang lain. Dari merekalah aku mendengar semua kisah menyeramkan itu. Ah, sungguh sulit dimengerti. Tapi, itulah dunia gaib yang memang selalu saja membingungkan.


0 Responses to “Arwah Gadis Bunuh Diri Gentayangan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: