12
Nov
08

Kecintaanku Pada Al Mulk Membawaku Ke Dunia Lain

Aku dilahirkan dan dibesarkan di kota S, Propinsi Jawa Tengah, 29 tahun yang lalu. Ayahku seorang PNS dan memiliki usaha kecil-kecilan di kota itu, sedangkan ibuku seorang guru. Aku sendiri adalah anak ke-3 dari 3 bersaudara.

Terutama ayahku, beliau selalu menginginkan agar aku dekat dengan agama, karena memang ayahku seorang yang sholeh dan taat beragama. Masih kuingat, suatu sore ketika aku masih duduk di bangku kelas dua SMA, kami bermobil keliling kota. Ketika itulah ayahku berpesan agar aku jangan sampai meninggalkan surat Al Mulk sebagai bacaan wajib harian. Menurut keterangan ayah, dengan membaca Surat ini setiap harinya, maka Insya Allah kita akan terhindar dari siksa kubur dan dimasukan ke dalam sorgaNya.

Keterangan ayah itu memang begitu menggoda nuraniku. Tanpa sepengetahuan beliau, sejak itulah aku mulai melaksanakannya hampir tidak pernah putus. Ya, aku selalu rajin membaca Al Mulk di sepanjang hari-hari yang kulalui.

Tanpa terasa, waktu pun terus berlalu. Saat itu aku kuliah di perguruan tinggi swasta di kota Yogyakarta. Aku punya banyak teman dari berbagai daerah di seluruh Indonesia, dengan berbagai karakter. Kira-kira aku sudah menginjak semester empat, tanpa disadari surat Al Mulk sudah melekat dalam jiwaku, bahkan bacaannya sudah kuhafal di luar kepala. Begitu cintanya aku pada Al Mulk, sehingga rasanya bila meninggalkannya sehari saja, ada yang hilang dalam hidupku.

Sampai suatu hari terjadi  keanehan yang kuhadapi. Kala itu, jarum jam menunjukkan pukul 12 malam. Tidak seperti biasanya, malam itu mataku sulit sekali mengantuk. Ketika teman-teman satu kostku sudah masuk ke kamarnya masing masing, aku malah masih di luar melihat indahnya cakrawala malam. Tak terasa, kekaguman tersbersit di dalam batinku. Melihat langit yang terbetang sangat indah, aku sadar sepenuhnya betapa luar biasanya penciptaan Alllah SWT.

Yang sulit kumengerti, memandangi cakrawala malam akhirnya menjadi rutinitas malamku sehari-hari, memandangi langit di mana jutaan bahkan milyaran bintang bertebaran. Sungguh luar biasa kebesaran Illahi. Di antara kekaguman dan rasa kecilku sebagai hambaNya, dalam hati, aku pun sering kali bertanya pada diri sendiri, di manakah batas langit sesungguhnya? Dan, dimanakah juga letak surga dan neraka itu? Mengapa manusia harus sombong, padahal mereka sangat kecil bila melihat betapa luasnya langit itu dengan serakan milyaran bintang di atasnya.

Sepertinya, aku tidak pernah meerasa bosan dengan rutinitasku memandangi langit di tengah malam. Padahal, esok hari nanti aku harus menjalani aktifitasku di kampus.

Sampai terjadi peristiwa malam itu. Setelah puas memandangi cakrawala malam dan mengagumi kebesaran ciptaan Illahi, aku pun memutuskan masuk kamar dan menjalankan sholat sunat semampuku.

Setelah sholat sunat, aku duduk sambil membaca surat Al Mulk yang terdiri dari 30 ayat itu sampai selesai. Kemudian aku rebahkan tubuhku di kasur yang tidak memakai ranjang. Ketika itulah hal aneh itu menimpaku. Jika dikatakan mimpi aku sadar, dikatakan sadar hal ini sangat tidak masuk akal. Entah mengapa, tiba-tiba aku merasa ada keanehan suasana menjadi hening, jangankan suara serangga malam, suara tape recorder sebelah kamarku pun mulai tidak terdengar lagi.

Entah siapa yang membawaku, tiba-tiba aku merasa sudah berada di tempat yang sangat asing, tapi aku seperti pernah melihatnya. Benar, ini adalah makam presiden pertama RI Bung Karno yang ada di Blitar, Jawa Timur. Aku terkejut bukan kepalang. Kenapa aku bisa sampai di sini dalam sekejap?

Belum hilang rasa heranku, aku jadi tambah terkejut ketika ada suara yang berkata kepadaku dengan nada memerintah “Ambilah Alu kembar di sini!”

Alu apa? Batinku memberontak. “Aku tidak melihat Alu itu disini. Di mana ada Alu?” Jawabku dengan tubuh menggigil.

Ketakutanku semakin menjadi-jadi ketika kulemparkan pandangan ke berbagai sudut, ternyata aku tetap tidak melihat wujud yang bicara kepadaku.

“Lihat di atas makam!” Perintah suara gaib itu. “Ambillah, karena jika kau memilikinya kau akan menjadi orang sakti!” Perintah suara itu lagi.

“Aku tidak ingin jadi orang sakti. Kumohon, kembalikan aku ke asalku!”  Pintaku dengan hampir menangis.

Aneh, tiba-tiba sepasang Alu memang muncul di atas makam. Ketika aku masih berdiri terpaku, tiba-tiba Alu kembar itu mengejarku. Tidak hanya itu, sepasang Alu tersebut kemudian berubah menjadi dua bongkah batu sebesar kerbau.

Betapa kagetnya aku. Begaimana mungkin hal ini bisa terjadi? Bagaimana juga aku bisa menghindari batu sebesar itu yang terus saja mengejarku? Aku sudah pasrah. Aku hanya bisa berlari menghindari hantaman Alu kembar yang sudah berubah jadi batu itu.

Aku pasrah kepada Allah apa yang akan ditimpakan kepadaku saat itu. Namun, sedapat mungkin aku menghindari kejaran dua bongkah batu sebesar kerbau itu. Saat aku hanya berpasrah diri, tiba-tiba saja sepasang batu itu bertabrakan di udara. Aneh, yang tadinya Alu kembar, kemudian mengejarku berubah menjadi batu dan setelah bertabrakan berubah lagi menjadi sumping raja kerajaan jaman dulu berjumlah empat buah. Keempatnya tergeletak di tanah.

Yang tak kalah aneh, tiba-tiba tubuhku terasa tersedot seiring dengan hilangnya sumping-sumping itu dan aku ternyata sudah berada di kamarku lagi.

“Subhanallah, Maha Suci Engkau Ya Allah yang telah menjadikan segala sesuatu dengan semua kehendak dan kebesaranMu!” Aku menyebut-nyebut kebesaranNya dengan hati yang masih bergetar hebat. Selepas itu, aku pun kembali menunaukan sholat malam, dan tidak tidur sampai selepas sholat Subuh.

Suatu saat, ketika aku tanyakan peristiwa aneh yang aku alami kepada seorang mursyid sufi di kota Jakarta, beliau hanya menjawab, “Alu kembar itu sesungguhnya adalah lambang syari’at dan hakikat. Artinya, keduanya seimbang dan harus berjalan lurus, begitulah kurang lebihnya.”

Mungkin memang itulah yang dimaksud dengan Alu kembar, bukan suatu benda keramat yang diburu banyak orang, melainkan suatu hal filosopi yang sangat berharga bagi seorang Muslim, yaitu Syariat dan Hakikat seperti petunjuk mursyid tarekat itu. Syariat berarti, bagaimana kita menjalankan apa yang diperintahkan Allah sesuai dengan tata laku dan cara yang benar seperti yang diajarkan Allah dan Rasulnya. Sedangkan Hakikat adalah sholatnya hati, ketika hati hadir kepada Allah dan merasakan apa yang disebut seakan-akan kita dilihat Allah bila tidak bisa, kita harus yakin bahwa kita dilihat Allah. Dengan cara itu kita akan terhindar dari perbuatan dosa. Mungkin itulah kurang lebihnya yang aku tahu tentang Syariat dan Hakikat (Apabila salah mohon dimaafkan ).

Seandainya Alu kembar adalah sebuah benda keramat dan apa yang dikatakan suara itu bahwa aku akan menjadi sakti bila memiliki Alu kembar tersebut, tentulah aku sekarang sudah sakti. Tapi nyatanya aku biasa-biasa saja seperti sebelum kejadian itu. Dan tidak pernah ada bedanya.

Waktu pun berlalu, mungkin kejadian itu aku sudah tidak ingat-ingat lagi. Aku pun menjalankan aktifitas seperti biasanya. Malam-malamku ku isi bercanda dengan teman-teman kostku. Menjelang pukul 10 malam aktifitasku aku ganti dengan menulis sebuah karangan Islami yang akan aku kirimkan ke calon isteriku  yang menuntut ilmu di perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia. Tentu dengan harapan, walaupun karya-karyaku tidak pernah diterbitkan untuk khalayak umum bagiku untuk konsumsi pengetahuan calon istriku dan teman-temannya pun aku sudah bersyukur, karena kebetulan calon istriku mahasiswi keputrian Rohani Islam yang sangat suka buku-buku Islam. Barangkali Allah kelak mengijinkan aku membukukannya dan menerbitkannya.

Malam kian larut, waktu menunjukan hampir pukul 12 tengah malam. Suasana kost pun terasa sepi. Hanya suara serangga malam dan lagu yang terdengar dari tape recorder teman sebelah kamar. Aku pun mulai menjalankan aktifitas selanjutnya, mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat sunnah semampuku. Namun yang terpenting adalah mengamalkan rutinitasku sebelum tidur, yaitu membaca surat Al Mulk.

Seperti biasa, setelah selesai membaca Al Mulk aku rebahkan tubuhku yang masih di atas sajadah hingga kepalaku ada di kasur lesehan itu. Tiba-tiba, kejadian yang seperti malam dulu itu pun berulang lagi. Ya, suasana menjadi tambah senyap. Sama sekali tak terdengar satu pun suara di telingaku. Sekejap tubuhku seperti tertarik keluar. Aneh, saat itu juga sekejap aku sudah berada di jalan depan kost. Saat itu, mataku tertuju kepada seorang laki-laki tua yang masih kelihatan gagah dengan memakai jubah hitam menghampiriku. Aku tertegun memandangnya, sampai akhirnya dia berkata kepadaku “Nak, aku akan menurunkan semua ilmu kesaktianku kepadamu, dan kau harus menerima ilmu macanku karena kau akan menjadi sakti.”

Di sela rasa heran, aku tersenyum mendengar kata-katanya. Jujur saja, tak sedikitpun terasa takut di hatiku seperti halnya waktu aku di makam Bung Karno.

“Aku tidak mau menerima ilmu kakek, aku juga tidak mau sakti!” Jawabku.

Mendengar jawabanku, kakek tua itupun pergi. Sekejap kemudian, tiba-tiba tubuhku ini terasa tersedot p;eh suatu kekuatan, sehingga kepalaku terasa menjadi pusing. Aneh, dalam sekejap aku sudah berada di kamarku dengan posisi semula.

Aku bersyukur kepada Allah, karena bagiku sakti adalah selamat dunia dan akhirat. Karena pada dasarnya manusia adalah lemah. Ilmu yang dibanggakan akan membuat bencana bagi diri manusia sendiri. Karena itu, biarlah aku adalah aku. Tak seorang pun yang bisa memaksaku, kecuali kehendak Allah.

Karena kecintaanku kepada Al Mulk yang hampir selalu kubaca tiap tengah malam, akhirnya membawaku ke dunia yang sulit aku pahami. Insya Allah, lain waktu, aku akan ceritakan pengalamanku yang lain. Semoga menjadi cermin bagi diriku dan siapa pun yang membacanya bahwa kesaktian manusia hanyalah sementara. Dan ilmu yang tidak bermanfaat hanya menjadi azab kelak di akhirat. Kita hanya berlindung kepada Allah….


0 Responses to “Kecintaanku Pada Al Mulk Membawaku Ke Dunia Lain”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: