10
Nov
08

Harta Gaib Musnah Mendadak


Masih ingat tentang kisah si Qorun? Ya, lelaki super kaya yang hidup pada masa Nabi Musa AS itu ditelan bumi berikut seluruh hartanya, akibat enggan membayar zakat. Kisah yang menimpa Qorun ini begitu terkenal bahkan hingga sekarang, karena diabadikan dalam kitab suci Al-Qurían.

Selain Qorun, masih banyak lagi orang yang mengalami nasib sial gara-gara enggan mengeluarkan zakat. Salah satunya adalah yang menimpa seorang lelaki bernama Jumhari, seorang warga Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. Berikut kisah selengkapnya, semoga dapat kita ambil hikmahnya.

Pada suatu ketika, entah apa yang menjadi penyebabnya, usaha yang telah cukup lama dirintis Jumhari mengalamai kebangkrutan. Di saat sedang terkena musibah seperti ini, si isteri bukannya membantu malahan meminta diceraikan.

Karena tak sanggup menahan siksaan batin yang dirasakan begitu berat, Jumhari berniat pergi ke kabupaten Cirebon. Tujuannya hanya satu yakni berpuasa di makam Nyai Mas Gandasari, seorang wali Allah. Kuburan wanita wali yang terkenal ini terletak di desa Panguragan, kecamatan Arjawinangun, Cirebon.

Suatu hari, dengan tekad bulat dan bekal seadanya, ia berangkat untuk melaksanakan niatnya. Dan setibanya di tempat yang dituju, setelah memohon izin terlebih dahulu kepada kuncen, iapun berpuasa selama 47 hari.

Setelah tirakat yang dilaksanakannya selesai, Jumhari berniat untuk pulang kembali ke Cikarang. Tetapi apa boleh buat, bekal yang dibawanya dari rumah telah habis. Akhirnya ia meminta bantuan kepada anak sang juru kunci, agar sudi mengantarkannya sampai ke Arjawinangun saja.

Namun setibanya di Arjawinangun, lagi-lagi Jumhari pusing bukan kepalang. Pasalnya, ia tidak memiliki uang sepeser pun untuk ongkos bis menuju Cikarang. Dalam keadaan demikian, tiba-tiba sebuah bis Dedy Jaya berhenti tepat di depannyaa. Ternyata sopir bis tersebut tak lain adalah keponakkannya sendiri.

“Paman sedang apa? Kok ada di sini?” tanya si keponakan setelah turun dari bis dengan wajah dipenuhi rasa heran.

“Paman dari Panguragan, ada perlu. Tapi mau pulang kehabisan bekal,” jawab Jumhari.

“Ya sudah, kalau begitu paman ikut saja dengan saya,” ujar keponakkannya lagi seraya menggandeng lengan pamannya, menuju bis.

Karena pikiran Jumhari masih kacau-balau, ia merasa enggan untuk pulang kerumahnya di Cikarang. Kepada keponakkannya, ia meminta agar diturunkan di Jakarta saja.

Di Kota Metropolitan ini, kebetulan Jumhari mempunyai seorang teman yang membuka kedai kopi. Ke tempat sang teman inilah kemudian kakinya dilangkahkan. Hingga beberapa hari ia menumpang hidup di situ, sambil membantu temannya berjualan.

Setelah sepuluh hari kemudian, kira-kira jam sepuluh pagi, tiba-tiba Jumhari kedatangan seorang tamu. Tampaknya seorang kaya, sebab kendaraannya sedan mewah. Sementara tangannya menjinjing sebuah tas warna coklat.

“Mas, kamu sedang membutuhkan modal ya ?” tanya si tamu langsung kepada Jumhari.

Jumhari merasa sangat terkejut, namun ia segera menjawab, “Betul sekali, Pak. saya memang sedang membutuhkan sekali uang, untuk keperluan modal usaha”.

“Kalau begitu, terimalah ini sebagai modal usahamu. Kalau ada rasa sangsi di hatimu, ini alamat saya yang dapat dihubungi setiap saat,” ujar tamu itu sambil menyerahkan tas dan kartu nama kepada Jumhari.

Setelah itu tamu misterius itu berpamitan, meninggalkan Jumhari yang masih bengong karena belum yakin dengan apa yang baru saja dialaminya.

Sepeninggal si tamu, dengan perasaan ragu Jumhari membuka tas. Ternyata isinya berupa uang kertas, yang setelah dihitung dengan teliti berjumlah 50 juta rupiah. Menyaksikan hal tersebut Jumhari terbelalak. Sesaat kemudian ia sadar bahwa jumlah itu terlalu banyak. Maka sore harinya Jumhari berniat untuk mengembalikan sebagian uang yang telah diserahkan kepadanya.

Dengan berbekal selembar kertas yang berisi nama serta alamat lengkap si tamu, sore itu sekitar pukul empat, Jumhari berangkat seorang diri. Kebetulan alamat tamu misterius, yang sebut saja bernama pak Budiman, masih di Jakarta juga. Oleh karena itu, dalam waktu yang tidak terlalu lama ia sudah menemukan alamat yang dimaksud.

“Assalamualaikum!” Jumhari mengucapkan salam setibanya di depan pintu rumah pak Budiman.

Terdengar suara jawaban dari dalam. Tidak lama kemudian seorang wanita paruh baya muncul dari dalam. Dari penampilannya, Jumhari menduga bahwa wanita itu adalah isteri pak Budiman.

“Bu, apakah benar ini rumah Pak Budiman?” tanya Jumhari sambil menyodorkan kartu nama pemberian tamunya tadi pagi.

“Benar, ini memang rumah Pak Budiman. Tapi bapaknya sekarang masih di kantor, sebentar lagi juga pulang. Ayo, masuk saja dulu, ” jawab yang ternyata isteri pak Budiman itu dengan ramah.

Ketika sekitar satu jam kemudian yang ditunggu datang, Jumhari benar-benar terbelalak. Betapa tidak, orang itu bukanlah yang tadi menyerahkan tas berisi uang serta alamat rumahnya. Wajahnya pun sama sekali tidak ada kemiripan. Yang sama persis adalah mobil sedan dan plat nomor polisinya.

“Maaf Pak, saya mau bertanya. Apakah tadi pagi sekitar pukul sepuluh mobil Bapak dipakai orang lain?” tanya Jumhari hati-hati.

“Tidak, ” jawab pak Budiman singkat.

“Barangkali Bapak pernah menyuruh anak buah di kantor?” tanya Jumhari lagi penasaran.

“Tidak juga. Pokoknya dalam sehari ini kendaraan saya belum dipakai siapa pun selain saya”.

” Barangkali bapak lupa?”

“Sebenarnya ada apa sih, Mas?” pak Budiman balik bertanya penuh selidik.

Akhirnya Jumhari menceritakan pengalamannya. Tidak lupa diterangkan juga maksud kedatangannya. Mendengar itu sang tuan rumah kebingungan.

“Sebelum datang ke sini, apa sih yang telah Mas lakukan?” tanya pak Budiman kemudian.

“Saya telah melakukan puasa selama 47 hari, Pak?”

“Dimana?”

“Dimakam Nyai Mas Gandasari Panguragan Cirebon”.

Mendengar keterangan itu, pak Budiman yang nampaknya memahami dunia supranatural manggut-manggut, maklum. Lalu katanya,”Itu adalah rezeki Anda. Bawalah uang itu”.

Betapa gembiranya hati Jumhari mendengar keterangan pak Budiman itu. Dengan membawa uang yang cukup lumayan jumlahnya, ia pulang ke Cikarang kemudian membuka bisnis secara kecil-kecilan dalam bentuk jual beli bawang merah.

Lama-kelamaan modalnya semakin bertambah. Dan satu tahun kemudian ia sudah bisa menyewa tanah puluhan hektar di daerah Brebes, Jawa Tengah, untuk ditanami bawang dengan sistem bagi hasil.

Tetapi untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Manusia hanya bisa merencanakan, namun Tuhan jugalah yang menentukannya. Menjelang panen, puluhan hektar tanaman bawang milik Jumhari terendam banjir, sehingga semuanya menjadi busuk. Modal yang sudah terkumpul selama satu tahun, ludes dalam waktu relatif singkat.

Nah, menurut keterangan salah seorang kiyai, peristiwa tersebut terjadi akibat Jumhari tidak mengeluarkan zakat hartanya. Mestinya, sebelum uang yang lima puluh juta itu dipergunakan, terlebih dahulu zakatnya harus dikeluarkan. Kalau saja hal tersebut dilakukan, niscaya harta Jumhari membawa berkah, bukan sebaliknya.

Akhirnya penutur berharap, semoga kisah nyata yang dialami Jumhari ini dapat dipetik hikmahnya. Ya, semoga!

( Kisah nyata ini sebagaimana dituturkna oleh KH. Nurjaman beberapa waktu lalu ).


0 Responses to “Harta Gaib Musnah Mendadak”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: